Lenterailahi.blogspot.com, Pembahasan
ini merupakan tema yang cukup menarik bagi seseorang yang bmerian
kepada Allah dan Rasul-Nya. Tentunya orang yang beriman ingin
membuktikan keimanannya. Dengan demikian dia dinobatkan sebagai seorang
mu’min sejati. Tidak ada jalan untuk mewujudkan harapan yang mulia ini
melainkan dengan merealisasikan tauhid kepada Pencipta Langit dan Bumi,
yakni Allah subhanahu wa ta’ala.
Merealisasikan
tauhid secara sempurna adalah dengan membersihkan dan memurnikannya
dari campuran syirik besar maupun kecil, baik yang jelas atau
tersembunyi. Peribadahan yang dilakukan harus terbebas pula dari
kebid’ahan dan dosa besar yang dilakukan dengan terus menerus. Maka
seorang yang berkemauan untuk merealisasikan tauhid secara sempurna
harus memenuhi kriteria sebagaimana yang diutarakan tadi.
Merealisasikan
tauhid artinya menunaikan dua kalimat syahadat dengan sebaik-baiknya.
Yang dimaksud yaitu mentauhidkan Allah dalam perkara rububiyah,
uluhiyyah, serta nama dan sifat-Nya. Termasuk pula mentauhidkan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perkara mengikutinya.
Pengertiannya adalah dia tidak mengikuti kecuali Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam. Inilah yang disebut dengan tauhid mutaba’ah.
Seorang
yang mengucapkan dua kalimat syahadat hendaknya membersihkan tauhid
dari berbagai jenis kesyirikan dan dosa besar yang tidak disertai dengan
bertaubat. Ini merupakan bentuk realisasi ucapan tauhid La ilaha
ilallah. Di samping itu dia harus berlepas diri dari segala kebid’ahan
(urusan agama yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam). Ini merupakan bentuk realisasi ucapan tauhid Muhammadur
Rasulullah. Maka demikianlah makna merealisasikan tauhid secara
sempurna.
Di
samping terbebas dari berbagai jenis syirik besar maupun kecil, baik
yang jelas atau tersembunyi, seorang yang bertauhid harus terlepas pula
dari segala kebid’ahan dan dosa besar yang diperbuat dengan terus
menerus tanpa bertaubat. Karena melaksanakan sebuah kebid’ahan berarti
mempersekutukan Allah dengan hawa nafsu. Demikian pula makna yang
terkandung dalam memperbuat sebuah dosa besar. (Penjelasan ini
diterangkan oleh Asy-Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alus-Syaikh di kaset
pelajaran Kitabut-Tauhid).
Tingkatan Merealisasikan Tauhid
Merealisasikan tauhid dapat dibagi menjadi dua tingkatan:
1. Tingkat yang Wajib
Yaitu
seseorang merealisasikan tauhid dengan membersihkan dan memurnikannya
dari berbagai jenis kesyirikan, kebid’ahan dan dosa besar yang dilakukan
dengan terus-menerus. Ini merupakan tingkat yang wajib bagi orang yang
ingin merealisasikan tauhid dengan sempurna.
2. Tingkat yang Mustahab
Tingkat
ini digapai setelah menunaikan tingkat yang pertama. Oleh sebab itu
tingkat ini lebih tinggi derajatnya dari tingkat yang pertama. Seorang
yang ingin menduduki tingkat ini harus melepaskan seluruh wujud
penghambaan diri, keinginan, dan tujuan yang menghadap kepada selain
Allah. Sehingga dirinya tidak menghadap, berkeinginan dan bertujuan
untuk selain Allah sedikit pun dan sekecil apapun. Maka hawa nafsu
menjadi budaknya, sedangkan dirinya menjadi hamba Allah secara total dan
utuh.
Dengan
demikian, seorang yang menempati tingkat ini tidak hanya meninggalkan
berbagai jenis kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan. Namun dia juga
meninggalkan perkara-perkara yang makruh, bahkan sebagian perkara mubah
yang dikhawatirkan menggiring kepada perkara harom. Inilah yang
diungkapkan oleh sebagian ulama dengan pernyataan
“Mereka meninggalkan perkara yang tidak mengandung dosa karena khawatir terdapat dosa di dalamnya”.
Tingkatan
kedua ini adalah wujud maksimal untuk merealisasikan tauhid secara
sempurna dalam meraih derajat yang setingi-tingginya ketika masuk surga.
Sedangkan tingkat yang pertama adalah standar untuk masuk surga tanpa
adzab dan perhitungan amal.
Tentunya
kedua tingkatan di atas memiliki perbedaan pula dalam mengibadahi Allah
subhanahu wat’ala. Jika tingkat pertama hanya mengibadahi Allah dengan
perkara-perkara yang wajib saja.
Beda
halnya dengan tingkat kedua. Pada tingkat ini peribadahan kepada Allah
tidak hanya sebatas dalam perkara-perkara yang wajib saja tetapi juga
dalam perkara-perkara yang mustahab. Tingkat pertama disebut dengan
Al-Muqtasid sedangkan tingkatan kedua disebut dengan As-Saabiq bil
Khairot. Wallahu a’lam.
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Profil Muwahhid Sejati
Allah berfirman dalam Al-Quranul Karim,
“Sesungguhnya
Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh
kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk
orang-orang yang berbuat syirik.” (QS. An-Nahl: 120)
Di
sini Allah memberitakan tentang profil Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang
merealisasikan tauhidnya secara sempurna. Beliau adalah seorang
pemimpin dan teladan dalam kebaikan-kebaikan terutama perkara tauhid.
Beliau adalah seorang yang tunduk dan patuh kepada Allah dengan
terus-menerus dalam seluruh situasi, kondisi dan tempat.
Sifat
lain yang beliau miliki yaitu menghadapkan diri kepada Allah dengan
sepenuhnya tanpa berpaling sedikit pun kepada yang selain-Nya. Seluruh
sifat beliau ini merupakan hakikat penerapan tauhid yang sempurna kepada
Allah subhanahu wa ta’ala.
Pada
ayat di atas diterangkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak
termasuk dari golongan orang-orang yang berbuat syirik (musyrikin).
Kandungan ayat ini mencakup dua makna:
1.
Bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak termasuk dari golongan
musyrikin secara fisik. Artinya beliau ‘alaihis salam berlepas diri,
tidak bergabung dan berkumpul bersama-sama kaum musyrikin dengan
jasadnya.
2.
Bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak termasuk dari golongan
musyrikin secara sifat dan perilaku. Artinya beliau ‘alaihis salam
berlepas diri dan tidak melakukan kesyirikan sama sekali. Demikian pula
beliau ‘alaihis salam tidak mengikuti adat kebiasaan kaum musyrikin yang
bergelimang dengan kebid’ahan dan kemaksiatan di samping kesyirikan.
(Seluruh keterangan yang lalu disampaikan oleh Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alus Syaikh di kaset Kitabut Tauhid).
Pada
ayat di atas dinyatakan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam disebut
sebagai satu umat padahal beliau sendirian. Maksudnya agar orang-orang
yang menempuh jalan tauhid tidak merasa ngeri karena jumlah penganutnya
sedikit.
Selanjutnya
beliau ‘alaihis salam dikukuhkan oleh Allah sebagai seorang yang tunduk
dan patuh kepada-Nya. Berarti beliau ‘alaihis salam bukan seorang yang
tunduk kepada penguasa atau orang kaya yang punya harta dan yang selain
mereka. Maka tidak ada yang selain mereka.
Maka
tidak ada yang bisa menguasai beliau ‘alaihis salam selain Allah, baik
dari golongan para penguasa maupun para orang kaya yang punya harta dan
yang selain mereka. Beliau ‘alaihis salam tidak bisa dibelai dengan
kekuasaan, harta atau yang selainnya. Karena pendirian beliau ini Allah
menyebutnya sebagai seorang yang patuh dan tunduk kepada-Nya.
Berikutnya
beliau ‘alaihis salam disifatkan sebagai seorang yang hanif. Maksudnya
beliau ‘alaihis salam seorang yang hanya menghadap kepada Allah dan
berpaling dari yang selain-Nya tanpa menyimpang ke kanan dan ke kiri.
Demikianlah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab menjelaskan tentang
sifat-sifat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagaimana pada ayat di atas.
Kriteria Orang-orang Yang Bertauhid
Allah berfirman dalam Al-Qur’anul Karim,
“Sesungguhnya
orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka,
Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka, Dan
orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu
apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan,
dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka
akan kembali kepada Rabb mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat
kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.
“(Al-Mu’minun:57-61)
Ayat-ayat di atas menyebutkan kriteria orang-orang yang beriman dan bertauhid dengan baik.
Tentang firman Allah,
Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka
Ibnu
Katsir rahimahullah berkata, “Mereka berbuat baik dan beramal shalih
karena takut terhadap Rabb mereka dan khawatir ditimpa oleh sesuatu yang
mereka tidak inginkan. Inilah kondisi seorang mukmin, berbuat kebaikan
karena takut kepada Allah dan khawatir tidak memperoleh apa yang mereka
inginkan”.
Al-Hasan
Al-Bashri rahimahullah menyatakan, “Seorang mu’min mengumpulkan antara
perbuatan baik dan rasa takut kepada Allah. Sedangkan seorang munafik
mengumpulkan antara perbuatan jelek dan rasa aman dari siksa Allah.”
Tentang firman Allah,
“Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka”
Perlu diketahui bahwa beriman dengan ayat-ayat Allah mencakup dua hal:
1. Beriman dengan ayat Allah Al-Kauniyyah.
Maksudnya beriman bahwa segala yang terjadi di alam ini dengan taqdir dan ketentuan Allah.
2. Beriman dengan ayat Allah Asy-Syar’iyyah.
Maksudnya
beriman kepada syariat yang Allah turunkan melalui Nabi shalallahu
‘alaihi wasallam. Ayat Allah Asy-Syar’iyyah mengandung tiga hal:
a. Perintah Allah yang disyariatkan. Ini adalah perkara yang dicintai Allah.
b. Larangan Allah yang disyari’atkan. Ini adalah perkara yang dibenci Allah.
c.
Kabar yang diberitakan oleh Allah dalam syari’at-Nya. Kabar ini adalah
benar dan tidak mungkin dusta sebab datangnya dari sisi Allah subhanahu
wa ta’ala.
Tentang firman Allah,
“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun)”
Perlu
diketahui bahwa tidak berbuat syirik yang dimaksud dalam ayat ini
adalah makna yang menyeluruh dan mencakup semua jenisnya. Artinya tidak
berbuat syirik besar maupun kecil, baik yang jelas atau tersembunyi. Ini
adalah sifat seorang yang merealisasikan tauhid secara sempurna.
Jika
dinyatakan “tidak berbuat syirik” sedikit pun, berarti terlepas pula
dari perbuatan bid’ah dan maksiat. Sebab berbuat bid’ah dan maksiat
merupakan realisasi menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahan selain
Allah. Inilah yang disebut dengan syirik. Coba perhatikan firman Allah
ta’ala,
“Apakah engkau tidak melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah (sesembahan)-nya”. (Al-Jatsiyah:23)
Wallahu a’lam bishshawaab.
Sumber : http://alhujjah.wordpress.com/tauhid/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar