Lenterailahi.blogspot.com, Tokoh ini dikenal sebagai imam, allamah, muhaqqiq, hafizh, ushuli,
faqih, ahli nahwu, berotak cemerlang, dan banyak mengeluarkan karya.
Nama lengkapnya Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub
bin Sa'ad bin Huraiz az-Zar'i, namun lebih dikenal dengan nama Ibnu
Qayyim al-Jauziyyah.
Ibnul Qayyim dilahirkan di tengah keluarga berilmu dan terhormat pada
tanggal 7 Shaffar 691 H. Kampung kelahirannya adalah Zara' dari
perkampungan Hauran, sebelah tenggara Damsyq (Damaskus), Suriah.
Berkat
pendidikan intensif yang diberikan orangtuanya, Ibnul Qayyim pun tumbuh
menjadi seorang yang dalam dan luas pengetahuan serta wawasannya.
Terlebih ketika itu, bidang keilmuan sedang mengalami masa jaya dan para
ulama pun masih hidup.
Dari ayahnya, Ibnu Qayyim belajar ilmu faraidl karena sang ayah memang
sangat menonjol dalam ilmu itu. Selain itu, dia belajar bahasa Arab dari
Ibnu Abi al-Fath al-Baththiy dengan membaca kitab-kitab Al-Mulakhkhas
li Abil Balqa', kitab Al-Jurjaniyah, juga sebagian besar kitab
Al-kafiyah was Syafiyah. Kepada Syaikh Majduddin at-Tunisi dia belajar
satu bagian dari kitab Al-Muqarrib li Ibni Ushfur.
Cakupan bidang keilmuannya demikian luas. Misalnya saja dia pernah
belajar ilmu Ushul dari Syaikh Shafiyuddin al-Hindi, ilmu fikih dari
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ismail bin Muhammad al-Harraniy.
Dia pun terkenal dalam pengetahuannya tentang mazhab-mazhab
Salaf.Hingga akhirnya dia bermulazamah secara total (berguru secara
intensif) kepada Ibnu Taimiyah sesudah kembalinya Ibnu Taimiyah dari
Mesir tahun 712 H hingga wafatnya tahun 728 H. Ketika itu, Ibnu Qayyim
sedang pada awal masa mudanya.
Oleh karenanya dia berkesempatan mereguk sumber ilmunya dari mata air
yang luas. Pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah yang penuh kematangan dia
cerna benar-benar. Ibnul Qayyim pun amat mencintainya, sampai-sampai dia
mengambil kebanyakan ijtihad-ijtihadnya dan memberikan pembelaan
atasnya. Ibnul Qayyim juga menyebarluaskan ilmu Ibnu Taimiyah dengan
cara menyusun karya-karyanya yang bagus dan dapat diterima.Mereka berdua
seakan tak terpisahkan. Keduanya pernah dipenjara, dihina dan diarak
berkeliling bersama sambil didera dengan cambuk di atas seekor onta.
Setelah Ibnu Taimiyah wafat, Ibnul Qayyim pun dilepaskan dari penjara.
Banyak faedah besar yang dia petik selama berguru kepada tokoh
kharismatik itu, diantaranya yang penting ialah berdakwah mengajak orang
supaya kembali kepada kitab Alquran dan sunnah Rasulullah, berpegang
kepada keduanya, memahami keduanya sesuai dengan apa yang telah difahami
oleh as-Salafus Shalih.Ibnul Qayyim telah berjuang untuk mencari ilmu
serta bermulazamah bersama para ulama besar supaya dapat menyerap ilmu
mereka dan supaya bisa menguasai berbagai bidang ilmu Islam.
Penguasaannya terhadap ilmu tafsir tiada bandingnya. Pemahamannya
terhadap ushuluddin mencapai puncaknya serta pengetahuannya mengenai
hadis, makna hadis, pemahaman serta istinbath-istinbath rumitnya, sulit
ditandingi.Begitu pula, pengetahuannya di bidang ilmu suluk dan ilmu
kalam-nya Ahli tasawuf, isyarat-isyarat mereka serta detail-detail
mereka. Ibnu Qayyim memang amat menguasai terhadap berbagai bidang ilmu
ini.
Semua itu menunjukkan bahwa tokoh ini amat teguh pada prinsip, yakni
bahwa "Baiknya perkara kaum Muslimin tidak akan pernah terwujud jika
tidak kembali kepada madzhab as-Salafus Shalih yang telah mereguk
ushuluddin dan syariah dari sumbernya yang jernih yaitu Kitabullah
Al-Aziz serta sunah Rasulullah."
Dia pun senantiasa berpegang pada ijtihad serta menjauhi taqlid.
Diambilnya istinbath hukum berdasarkan petunjuk Alquran, sunnah
nabawiyah syarifah, fatwa-fatwa shahih para sahabat serta apa-apa yang
disepakati oleh ahlu ats tsiqah (ulama terpercaya) dan para imam fikih.
Waktu yang ada benar-benar telah dicurahkannya untuk mengajar, memberi
fatwa, berdakwah dan berdialog. Karenanya, banyak tokoh-tokoh ternama
adalah para muridnya. Mereka merupakan ulama terbaik yang telah terbukti
keutamaannya, di antaranya: anak beliau sendiri bernama Syarafuddin
Abdullah, anaknya yang lain bernama Ibrahim, kemudian Ibnu Katsir
ad-Dimasyqiy penyusun kitab Al-Bidayah wan Nihayah, Al-Imam Al-Hafizh
Abdurrahman bin Rajab Al-Hambali Al-Baghdadi penyusun kitab Thabaqat
al-Hanabilah, dan masih banyak lagi.
Ibnul Qayyim juga merupakan seorang peneliti ulung. Dia mengambil semua
ilmu dan segala tsaqafah yang sedang jaya-jayanya pada masa itu di
negeri Syam dan Mesir.Kemudian disusunnya kitab-kitab fikih, kitab
ushul, serta kitab-kitab sirah dan tarikh. Jumlah tulisannya sangat
banyaknya, dan keseluruhan kitab-kitabnya itu memiliki bobot ilmiah yang
tinggi. Oleh karenanya Ibnul Qayyim pantas disebut kamus segala
pengetahuan ilmiah yang agung.
Beberapa karya besarnya antara lain; Tahdzib Sunan Abi Daud, I'lam
al-Muwaqqi'in an Rabbil Alamin, Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil
Ghadlban, Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan, Bada I'ul Fawa'id,
Amtsalul Quran, dan Buthlanul Kimiya' min Arba'ina Wajhan. Ibnu Qayyim
al-Jauziyah, wafat pada malam Kamis, tanggal 13 Rajab tahun 751
Hijriyah. Setelah dishalatkan keesokan harinya usai shalat Dzuhur di
Masjid Jami Besar Dimasyq (Al-Jami Al-Umawi), ulama ini dikuburkan di
tanah pekuburan Al-Babus Shaghir. Sumber : REPUBLIKA .co.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar