Rasa Aman dan Petunjuk bagi Penganut Tauhid
Setiap
penganut tauhid akan mendapatkan jaminan keselamatan dari Allah berupa
rasa aman dan petunjuk.
Hal ini membuktikan betapa penting bagi sekalian
manusia untuk memiliki tauhid. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Orang-orang
yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan
kedzoliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan
mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (Al-An`aam:
82)
Yang dimaksud dengan kedzoliman di sini adalah syirik besar. Karena Ibnu Mas`ud radhiyallahu `anhu pernah berkata:
“Tatkala
ayat ini turun, mereka bertanya: Siapa diantara kami yang tidak
mendzolimi dirinya?Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam
menjawab: (Ayat ini) bukan seperti yang kalian fahami. Tidakkah kalian
mendengar ucapan Luqman: Sesungguhnya syirik adalah kedzoliman yang
besar.” (HR. Bukhari).
Dengan demikian berarti seorang yang tidak menjauhi syirik besar akan nihil perolehan rasa aman dan petunjuk secara mutlak.
Sebaliknya
seorang yang bersih dari syirik besar akan mendulang rasa aman dan
petunjuk sesuai dengan tingkat keislaman dan keimanan yang tertanam pada
dirinya. Maka rasa aman dan petunjuk yang sempurna hanya akan diraih
oleh seorang yang bertauhid dan bertemu dengan Allah tanpa membawa dosa
besar yang dilakukan secara terus-menerus.
Seorang
yang bertauhid akan menggapai rasa aman dan petunjuk sesuai dengan
nilai tauhid dan akan hilang sesuai dengan kadar maksiat. Ini apabila
dia memiliki dosa-dosa dan tidak bertaubat darinya.
Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Kemudian
kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara
hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang mendzolimi dirinya
sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka
ada yang bersegera berbuat kebaikan dengan seizin Allah. Yang demikian
itu adalah karunia yang amat besar.” (Faathir: 32)
Orang
yang mendzolimi dirinya adalah orang yang mencampur adukkan amalan baik
dengan amalan buruk. Golongan ini berada di bawah kehendak Allah. Jika
Allah berkehendak maka diampuni dosanya. Bila tidak maka Allah akan
menyiksanya akibat dosanya pula. Namun Allah selamatkan dari kekalan
dalam api neraka sebab dia memiliki tauhid. Sedangkan golongan yang
pertengahan adalah orang yang hanya mengamalkan kewajiban dan
meninggalkan perkara yang haram. Ini adalah keadaan Al-Abror
(orang-orang yang berbuat kebaikan).
Adapun
golongan yang bersegera kepada kebaikan adalah orang yang memiliki
kesempurnaan iman dengan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk taat
kepada Allah, baik dalam berilmu maupun beramal.
Dua
golongan yang terakhir akan memperoleh keamanan dan petunjuk yang
sempurna di dunia dan akhirat. Karena sebuah kesempurnaan akan
memperoleh kesempurnaan pula. Dan sebuah kekurangan akan memperoleh
kekurangan pula. Oleh sebab itu kesempurnaan iman akan mencegah
pemiliknya dari berbagai maksiat dan siksanya. Hingga dia berjumpa
dengan Rabbnya tanpa membawa satu dosa pun yang bisa mengundang siksa.
Sebagaimana Allah ta`ala berfirman:
“Mengapa Allah akan mengadzab kalian, jika kalian bersyukur dan beriman?” (An-Nisaa`: 147)
Penjelasan
di atas adalah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim
Al-Jauziyyah rahimahumallah dan juga merupakan pendapat Ahlus-sunnah wal
Jama`ah. (lihat Qurratul `Uyuun karya Syaikh Abdurrohman bin Hasan
Alus- Syaikh hal. 12-13, dinukil dengan sedikit perubahan)
Rasa
aman dan petunjuk yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah rasa aman
dan petunjuk di dunia dan akhirat. Ini pendapat yang benar menurut
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-`Utsaimin. (lihat Al-Qaulul Mufiid jilid 1
hal. 58)
Allah
telah menjanjikan bagi orang-orang yang bertauhid rasa aman yang
langgeng di dalam mengarungi kehidupan dunia. Allah subhanahu wa ta`ala
berfirman:
“Dan
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang
yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi
mereka agama yang telah di ridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar
akan menukar (keadaan mereka), sesudah mereka berada dalam ketakutan
menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada
mempersekutukan Aku dengan sesuatu apa pun. Dan barangsiapa yang (tetap)
kafir sesudah (janji) itu, maka itulah orang-orang yang fasik.”
(An-Nuur:55)
Dalam
kehidupan akhirat seseorang yang bertauhid dengan sempurna akan
menikmati rasa aman dari kekalan dalam api neraka dan ancaman adzab.
Sementara orang yang tidak menyempurnakan tauhid karena melakukan dosa
besar tanpa bertaubat akan mengecap rasa aman dari kekalan dalam api
neraka tetapi tidak merasa aman dari ancaman adzab. Nasibnya tergantung
pada kehendak Allah. Apakah Allah mau mengampuninya atau justru
mengadzabnya. Allah ta`ala berfirman:
“Sesungguhnya
Allah tidaklah mengampuni dosa syirik terhadap-Nya dan akan mengampuni
yang lebih ringan dari itu bagi orang yang Dia kehendaki.” (An-Nisaa`:
116)
Seorang
yang bertauhid akan menggapai petunjuk kepada syari`at Allah, baik yang
berupa ilmu maupun amal dalam menapaki kehidupan dunia. Ketika di
akhirat mereka akan memperoleh petunjuk ke jalan menuju surga. Allah
ta`ala berfirman:
“(kepada
malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang dzolim beserta
teman sejawat mereka dan sesembahan-sesembahan yang selalu mereka
sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.”
(Ash-Shaaffaat: 22-23)
Ayat
ini menerangkan bahwa orang-orang yang dzolim beserta teman sejawat
mereka akan digiring ke jalan menuju neraka Al-Jahim di alam akhirat.
Dipahami dari sini bahwa orang-orang yang beriman (baca: bertauhid) akan
diarahkan ke jalan menuju surga An-Na`im. (lihat Al-Qaulul Mufiid jilid
1 hal. 57-58)
Bertauhid
kepada Allah merupakan modal pokok untuk menggapai segala keberuntungan
di dunia dan akhirat. Itulah rahmat Allah yang sangat luas bagi para
pemeluk tauhid. Hak timbal balik ini merupakan ketetapan Allah bukan
paksaan dan kehendak seorang pun. Allah membentangkan keutamaannya bagi
siapa yang mau merealisasikan tauhid.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu,
“Wahai Mu’adz! Tahukah engkau hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba-Nya atas Allah?”
Mu’adz menjawab: “Allah dan rasul- Nya yang lebih mengetahui.”
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam kemudian bersabda,
“Hak
Allah atas hamba-Nya adalah beribadah kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya
dengan sesuatu apapun, dan hak hamba-Nya atas Allah adalah tidak
menyiksa barangsiapa yang tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadits
ini menjelaskan bahwa Allah tidak menyiksa seorang yang beribadah
kepada-Nya tanpa berbuat syirik. Maka tidak berbuat syirik belum cukup
untuk menghindarkan dari adzab Allah. Akan tetapi harus disertai dengan
peribadahan kepada Allah.
Allah
akan menyiksa seorang yang tidak mau beribadah kepada-Nya walaupun
tidak berbuat syirik. Ini berarti ibadah kepada Allah dan tidak syirik
harus dilaksanakan oleh seorang hamba secara berbarengan guna menggapai
keutamaan ini. Sebab hak Allah atas hamba-Nya adalah beribadah
kepada-Nya dan terlepas dari berbagai noda syirik. Demikian pula status
sebagai hamba Allah tidak akan melekat pada dirinya sampai dia
mewujudkan peribadahan kepada Allah semata.
(lihat Al-Qaulul Mufid karya As-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 1/ 42-43)
Tentu
setiap muslim berkeinginan masuk surga disamping selamat dari adzab
Allah. Masuk surga merupakan perkara yang sangat mereka idamkan. Surga
adalah tempat kesudahan yang baik bagi mereka. Syarat memasukinya adalah
dengan bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Tauhid
sangat berpengaruh dalam menentukan nasib seorang muslim guna menggapai
keutamaan ini. Pelaksanaan tauhid secara murni dan tidak berbuat syirik
sama sekali dapat memudahkan jalan menuju surga tanpa penghalang. Maka
tingkat keberhasilan ini diukur dengan nilai tauhid yang telah dicapai
oleh masing-masing personil dalam menjalaninya.
Namun
siapapun orangnya selama dia memiliki tauhid maka tempat perhentian
terakhirnya adalah surga. Ini perkara pasti yang bersifat mutlak.
Walaupun sebagian mereka harus terlebih dahulu melalui kenyataan pahit
yaitu merasakan siksa neraka.
Yang
demikian dikarenakan nilai tauhidnya tidak sempurna akibat bercampur
dengan perbuatan dosa besar tanpa bertaubat kepada Allah. Rasulullah
shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa
yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali
Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan
rasul-Nya, ‘dan Isa adalah hambanya, rasul-Nya, kalimat yang
dianugrahkan-Nya kepada Maryam dan ruh dari sisinya, dan bersaksi bahwa
(perihal) surga dan neraka itu adalah benar, Allah memasukkannya kedalam
Surga walau bagaimana amalnya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Ubadah
bin Shamit radhiallahu ‘anhu)
Al-Hafidz ‘Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan,
“Makna
sabda Rasulullah (… walau bagaimana amalnya) yaitu (amalnya) yang baik
maupun yang buruk. Karena ahli tauhid mesti masuk surga. Mungkin pula
maknanya: penduduk surga memasukinya sesuai dengan amalan masing-masing
dari mereka dalam (menempati) tingkatan-tingkatannya.”
Sedangkan
menurut Imam Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, “Yang tertera dalam hadist
‘Ubadah khusus bagi seorang yang mengucapkan hal-hal yang disampaikan
oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Lalu menggandengkan dua
kalimat syahadat dengan hakikat keimanan dan tauhid yang terlampir dalam
haditsnya. Sehingga dia memperoleh pahala yang bisa memperingan
timbangan dosa-dosanya, serta mengundang keampunan, rahmat dan masuk
surga pada tahapan yang pertama”.
(lihat Fathul Majid karya Asy-Syaikh Abdurrahman Alus Syaikh hal. 60)
As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Masuk surga terbagi menjadi dua jenis:
Pertama, masuk yang sempurna. Tidak didahului dengan siksa bagi seorang yang menyempurnakan amalan.
Kedua, masuk yang kurang sempurna. Didahului dengan siksa bagi seorang yang kurang beramal.
Maka
seorang mukmin bila dosa-dosanya mengalahkan kebaikan-kebaikannya,
Allah akan menyiksanya sesuai dengan kadar perbuatannya dan bisa pula
tidak menyiksanya jika berkehendak. Allah ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya
Allah tidak mengampuni perbuatan syirik kepada-Nya dan mengampuni yang
lebih ringan dari itu bagi orang yang dikehendaki-Nya”. (An-Nisa: 116)”
(lihat Al-Qaulul Mufid 1/ 72)
Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya
Allah mengharomkan api neraka bagi orang yang mengucapkan ‘La ilaha
illallah’ (Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah),
dengan hal itu dia mencari wajah Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari
Itban bin Malik radhiallahu ‘anhu)
Asy-Syaikh
Abdurrohman bin Hasan Alu Syaikh menjelaskan hadits ini, ”Sabdanya,
(..dengan hal itu dia mencari wajah Allah) merupakan hakikat makna yang
ditunjukkan oleh kalimat La Ilaha Illallah. Yaitu berupa memurnikan
peribadahan kepada Allah dan meninggalkan syirik.
Sikap
jujur dalam mengucapkannya dan keikhlasan (memurnikan ibadah) adalah
dua perkara yang saling terkait erat. Tidak didapati salah satu dari
keduanya tanpa yang lain. Maka barangsiapa yang tidak ikhlas (memurnikan
ibadah) berarti dia seorang musyrik. Dan barangsiapa yang tidak jujur
dalam mengucapkannya berarti dia seorang munafik.
Orang
yang ikhlas dalam mengucapkannya adalah yang memurnikan ibadah kepada
Zat Yang Berhak yaitu Allah bukan kepada yang selain-Nya. Inilah yang
disebut dengan tauhid dan merupakan pondasi Islam. (lihat Qurratul Uyun
halaman 18)
Asy-Syaikh
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah memaparkan, “Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah berkata, ‘Sesungguhnya seorang yang mencari wajah
Allah harus menyempurnakan sarana-sarana yang mendukung pencariannya.
Apabila dia menyempurnakannya maka neraka diharamkan atasnya secara
mutlak.
Demikian
pula jika dia melakukan kebaikan-kebaikan dengan sempurna maka neraka
diharamkan atasnya secara mutlak. Namun jika dia kurang
menyempurnakannya maka nilai pencariannya juga menjadi kurang. Sehingga
kadar pengharoman neraka atasnya juga berkurang. Hanya saja tauhidnya
mencegah dari kekekalan di dalam api neraka. Barangsiapa yang berzina,
minum khomr atau mencuri, lalu dia mengucapkan persaksian bahwa tidak
ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, dalam rangka mencari
wajah Allah, berarti dia berdusta dalam persaksiannya. Karena nabi
shallallahu‘alaihi wasallam bersabda
“Tidaklah seseorang yang berzina sebagai mukmin ketika berzina”. (HR Bukhari-Muslim dari hadits Abu Huroiroh)
Apalagi bila persaksiannya itu ingin dianggap dalam rangka mencari wajah Allah.”
(lihat Al-Qaulul Mufid halaman 1/74).
Pengetahuan
tentang keutamaan-keutamaan tauhid bukan hanya sekedar sekilas info.
Hendaknya berbagai keutamaan tauhid ini mampu membangkitkan semangat
kita untuk lebih tekun mempelajari tauhid dan mengamalkannya. Merugilah
orang-orang yang ilmunya tidak membuahkan amal.
Perumpamaannya
ibarat sebuah pohon yang tidak menghasilkan buah. Bahkan lebih dari
pada itu, orang yang tidak mewujudkan tauhid baik secara ilmu maupun
amal niscaya akan sengsara di dunia sebelum akhirat.
Rasulullah
shallallahu’alaihi wasallam mengungkap keutamaan tauhid dengan tujuan
untuk membangkitkan semangat umatnya bertauhid secara benar dan
sungguh-sungguh. Bukan dengan maksud agar mereka berpangku tangan dan
merasa puas terhadap kelemahan dan kekurangan dalam bertauhid. Keutamaan
tauhid merupakan anugerah besar yang Allah curahkan bagi orang yang
bisa menggapainya dengan segala daya dan upaya mewujudkan tauhid.
Selain
keutamaan tauhid yang telah kita utarakan dalam pembahasan lalu masih
terdapat keutaman tauhid yang lainnya. Untuk mengetahui lebih jauh,
marilah kita menyimak hadits-hadits berikut ini,
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Bahwasanya
Nuh ‘alaihis salam pernah berkata kepada anaknya saat akan wafat ‘Aku
perintahkan engkau (berpegang) dengan laa ilaaha illallah. Karena langit
yang tujuh dan bumi yang tujuh jika diletakan pada satu anak timbangan
dan La ilaaha illallah pada satu anak timbangan yang lain, niscaya La
ilaha illallah lebih berat daripada yang lainnya. Dan jika langit yang
tujuh beserta bumi yang tujuh membentuk lingkaran yang tak diketahui
tempat sambungannya, niscaya Laa ilaaha illallah akan memutuskannya’.”
(HR.Ahmad dan Al-Hakim, beliau menshahihkannya dan disepakati oleh
Adz-Dzahabi. Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkan sanadnya dalam
As-Shahihah 1 / 210. Lihat takhrij Fathul Majid karya Asy-syaikh ‘Ali
Sinan hal. 68)
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Allah
ta’ala berfirman, ‘Wahai Anak Adam jika seandainya engkau mendatangiku
dengan sepenuh bumi kesalahan sedangakan engkau tidak berbuat syirik
sedikit pun niscaya aku akan mendatangaimu dengan sepenuh bumi
keampunan”. (HR. Turmudzi dan beliau menghasankannya, Imam Muslim
meriwayatkannya dari hadits Ibnu Abbas dan Imam Ahmad meriwayatkan dari
hadits Abu Dzar radhiallahu ‘anhuma).
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Pada
hari kiamat nanti, seorang dari umatku dipanggil di hadapan para
makhluk. Lalu dibentangkan sembilan puluh sembilan gulungan miliknya.
Setiap gulungan sejauh mata memandang.
Lalu
dikatakan, ‘Adakah sesuatu yang engkau ingkari dari gulungan-gulungan
ini? Apakah para pencatatku yang menjaga amalmu telah mendzolimimu?’
Dia menjawab, ‘Tidak ada wahai Rabbku’
Lalu dikatakan, ‘Apakah engkau memiliki sebuah udzur atau kebaikan?’
Maka orang ini merasa segan lantas menjawab, tidak ada.
Lalu dikatakan, ‘Benar, sesungguhnya engkau memiliki sebuah kebaikan dan engkau tidak akan didzolimi pada hari ini.’
Kemudian
dikeluarkan satu kartu miliknya yang bertuliskan, Asyhadu an La ilaaha
illallah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh (Aku bersaksi bahwa tidak
ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi
bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya).
Maka dia berkata, ‘Wahai Rabbku apa nilai kartu ini dibanding gulungan-gulungan itu?’
Lalu dikatakan, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan didzolimi.’
Kemudian
diletakkan gulungan-gulungan itu pada satu anak timbangan dan kartu ini
pada anak timbangan yang lain. Ternyata timbangan gulungan-gulungan itu
ringan dan timbangan kartu ini berat”.
(HR.
Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, beliau berkata, shahih
atas syarat Muslim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Syaikh Albani dalam
As-Shahihah 1 / 213 berkata, ‘Hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh
keduanya’. Lihat takhrij Fathul Majid hal.69)
Ibnul
Qayyim rahimahullah berkata ketika menerangkan hadits ini, “Amal-amal
perbuatan tidaklah berbeda-beda keutamaannya dikarenakan bentuk dan
bilangannya. Hanya saja keutamaannya berbeda-beda sebab perbedaan
keyakinan dalam hati sehingga dua amalan bisa memiliki bentuk yang satu
namun nilai perbedaan di antara keduanya sejauh antara langit dan bumi.”
Selanjutnya
beliau berkata, “Perhatikan hadits tentang sebuah kartu yang diletakkan
pada satu anak timbangan lalu diimbangi dengan timbangan sembilan puluh
sembilan gulungan yang masing-masingnya sejauh mata memandang ternyata
timbangan kartu itu berat dan timbangan gulungan-gulungan itu ringan.
Maka pemiliknya tidak diadzab. Merupakan perkara yang dimaklumi bahwa
setiap orang yang bertauhid memiliki kartu ini. Akan tetapi kebanyakan
mereka masuk mereka dengan sebab dosa-dosanya”. (Lihat Fathul Majid hal
69)
Asy-Syaikh
‘Abdurrohman bin Hasan Alus Syaikh menjelaskan, “Dalam mengucapkan dua
kalimat syahadat harus memilki ilmu dan keyakinan tentang maknanya.
Selanjutnya serta mengamalkan kandungannya sebagaimana firman Allah
ta’ala,
“Berilmulah engkau bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah” (Muhammad:19).
“Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran sedangkan mereka mengetahui (berilmu tentang yang dipersaksikan). (Az-Zukhruf:86)
Mengucapkan
dua kalimat syahadat tanpa mengerti maknanya atau tidak meyakininya
maka hal itu tidak bermanfaat. Begitu pula jika tidak mengamalkan
kandungannya yaitu sikap berlepas diri dari syirik dan memurnikan ucapan
serta amalan untuk Allah. Maka tidak bermanfaat baik ucapan hati maupun
lisan demikian pula amalan hati serta anggota badan. Hal yang
dikemukakan di atas adalah kesepakatan para ulama”. (Lihat Fathul Majid
hal 51).
Kita
tutup pembahasan ini dengan menukilkan keterangan Asy-Syaikh
Abdurrohman As-Sa’di dalam kitabnya Al-Qaulus Sadid halaman 16-19. Di
sini kita akan memaparkannya dengan lengkap mengingat bahwa penjelasan
beliau sangat gamblang dan rinci tentang keutamaan-keutamaan tauhid.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Termasuk dari keutamaan tauhid adalah:
Dapat menghapuskan dosa-dosa.
Merupakan
sebab yang paling besar untuk melonggarkan kesusahan-kesusahan serta
bisa menjadi penangkal dari berbagai akibat buruk dalam kehidupan dunia
dan akhirat.
Mencegah
kekekalan dalam api neraka meskipun dalam hatinya hanya tertanam
sebesar biji sawi keimanan. Juga mencegah masuk neraka secara mutlak
bila dia menyempurnakannya dalam hati. Ini termasuk keutamaan tauhid
yang paling mulia.
Memberi petunjuk dan rasa aman yang sempurna di dunia dan akhirat kepada pemiliknya.
Merupakan
sebab satu-satunya untuk menggapai ridho Allah dan pahala-Nya. Orang
yang paling bahagia yang memperoleh syafaat Muhammad shallallahu alaihi
wasallam adalah yang mengucapkan La ilaha illallah dengan ikhlas dari
hatinya.
Penerimaan
seluruh amalan dan ucapan, baik yang tampak dan yang tersembunyi
tergantung kepada tauhid seseorang. Demikian pula penyempurnaannya dan
pemberian ganjarannya. Perkara-perkara ini menjadi sempurna dan lengkap
tatkala tauhid dan keikhlasan kepada Allah menguat. Ini termasuk
keutamaan tauhid yang paling besar.
Memudahkan
seorang hamba untuk melakukan kebaikan- kebaikan dan meninggalkan
kemungkaran-kemungkaran. Serta menghiburnya tatkala menghadapi berbagai
musibah. Seorang yang ikhlas kepada Allah dalam beriman dan bertauhid
merasa ringan untuk melakukan ketaatan-ketaatan. karena dia mengharapkan
pahala dan keridhoan Rabbnya. Baginya terasa ringan meninggalkan hawa
nafsu yang berupa maksiat. karena dia takut terhadap kemurkaan dan siksa
Rabbnya.
Bila
tauhid sempurna dalam hati seseorang, Allah menjadikan pemiliknya
mencintai keimanan serta menghiasinya dalam hatinya. Selanjutnya Allah
menjadikan pemiliknya membenci kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan.
Lalu Allah memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang terbimbing.
Meringankan
segala kesulitan dan rasa sakit bagi seorang hamba. Semuanya itu sesuai
dengan penyempurnaan tauhid dan iman yang dilakukan oleh seorang hamba.
Sesuai pula dengan sikap seorang hamba saat menerima segala kesulitan
dan rasa sakit dengan hati yang lapang, jiwa yang tenang, pasrah dan
ridho terhadap ketentuan-ketentuan Allah yang menyakitkan.
Melepaskan
seorang hamba dari perbudakan, ketergantungan, rasa takut, pengharapan
dan beramal untuk makhluq. Inilah keagungan dan kemulian yang hakiki.
Bersamaan dengan itu dia hanya beribadah dan menghambakan diri kepada
Allah. tidak mengharap, takut dan kembali kecuali hanya kepada allah.
Dengan demikian sempurna keberuntungannya dan terbukti keberhasilannya.
Ini termasuk keutamaan tauhid yang paling besar.
Bila
tauhid sempurna dalam hati seseorang dan terealisasi lengkap dengan
keikhlasan yang sempurna, amalnya yang sedikit berubah menjadi banyak.
Segenap amal dan ucapannya berlipat ganda tanpa batas dan hitungan.
Kalimat ikhlas (Lailaha illallah) menjadi berat dalam timbangan amal
hambanya ini sehingga tak terimbangi oleh langit-langit dan bumi beserta
seluruh makhluq penghuninya. Perkara ini sebagaimana tertera dalam
hadits Abi Sa’id dan hadits tentang sebuah kartu yang bertuliskan La
ilaha ilallah tapi mampu mengalahkan berat timbangan sembilan puluh
sembilan gulungan catatan dosa dan setiap gulungan sejauh mata
memandang.
Yang
demikian karena keikhlasan orang yang mengucapkannya. Berapa banyak
orang yang mengucapkannya tetapi tidak mencapai prestasi ini. Sebab di
dalam hatinya tidak terdapat tauhid dan keikhlasan yang sempurna seperti
atau mendekati yang terdapat dalam hati hamba-Nya ini. Ini termasuk
keutamaan tauhid yang tak bisa tertandingi oleh sesuatu apapun.
Allah
menjamin kemenangan dan pertolongan di dunia, keagungan, kemuliaan,
petunjuk, kemudahan, perbaikan kondisi dan situasi, serta pelurusan
ucapan dan perbuatan bagi pemilik tauhid.
Allah
menghindarkan orang-orang yang bertauhid dan beriman dari
keburukan-keburukan dunia dan akherat. Allah menganugerahkan atas mereka
kehidupan yang baik, ketenangan kepada-Nya dan kenyamanan dengan
mengingat-Nya.
Cukup banyak dalil yang menguatkan keterangan-keterangan ini baik dari Al-Quran maupun As-sunnah. Wallahu a’lam”
Dengan
demikian, rasanya cukup besar dan banyak keutamaan yang Allah limpahkan
bagi para hambanya yang bertauhid. Sangat beruntung orang yang bisa
menggapai seluruh keutamaannya. Namun keberhasilan total hanya milik
orang-orang yang mampu menyempurnakan tauhid dengan sepenuhnya. Tentunya
manusia bertingkat-tingkat dalam mewujudkan tauhid kepada Allah ta’ala.
Mereka tidak berada pada satu level. Masing-masing menggapai keutamaan
tauhid sesuai dengan prestasinya dalam menerapkan tauhid. Allah
berfirman:
“Itulah
keutamaan Allah, Dia berikan kepada orang yang dikehendakinya. Dan
Allah adalah dzat yang maha memliki keutamaan yang besar.”(Al-Jumuah:4)
Sumber : http://alhujjah.wordpress.com/tauhid/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar