Lentera ilahi.blogspot.com, Merupakan
suatu perkara yang tidak bisa disangkal, bahwa alam semesta ini pasti
ada yang menciptakan. Yang mengingkari hal tersebut hanyalah segelintir
orang. Itu pun karena mereka tidak menggunakan akal sesuai dengan
fungsinya. Sebab akal yang sehat akan mengetahui bahwa setiap yang
tampak di alam ini pasti ada yang mewujudkan. Alam yang demikian teratur
dengan sangat rapi tentu memiliki pencipta, penguasa, dan pengatur.
Tidak ada yang mengingkari perkara ini kecuali orang yang tidak berakal
atau sombong dan tidak mau menggunakan pikiran sehat. Mereka tidaklah
bisa dijadikan tempat berpijak dalam menilai.
Dzat
yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta ini adalah Allah
subhanahu wa ta`ala. Inilah yang disebut dengan rububiyyah Allah.
Tauhid rububiyyah adalah sebuah keyakinan yang diakui bahkan oleh kaum
musyrikin. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Katakanlah:
Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau
siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan
siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan
yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?
Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak
bertakwa (kepada-Nya)?” (Yunus:31)
Oleh
sebab itu, selayaknya manusia hanya menyembah kepada Allah subhanahu wa
ta`ala saja. Allah subhanahu wa ta`ala telah menciptakan untuk manusia
berbagai prasarana berupa alam semesta ini. Semua itu untuk mewujudkan
peribadatan kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta`ala juga membantu mereka
untuk mewujudkan peribadahan tersebut dengan limpahan rezeki. Sedangkan
Allah tidak membutuhkan imbalan apa pun dari para makhluk-Nya.
Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan
Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya
Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat
Kokoh.” (Adz-Dzaariyaat:56-58)
Sesungguhnya
tauhid tertanam pada jiwa manusia secara fitroh. Namun asal fitroh ini
dirusak oleh bujuk rayu syaithan yang memalingkan dari tauhid dan
menjerumuskan ke dalam syirik. Para syaithan baik dari kalangan jin dan
manusia bahu-membahu untuk menyesatkan umat dengan ucapan-ucapan yang
indah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Dan
demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu
syaithan-syaithan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian
mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-pekataan yang
indah-indah untuk menipu manusia” (Al-An’aam:112)
Tauhid
adalah asal yang terdapat pada fitroh manusia sejak dilahirkan.
Sedangkan kesyirikan adalah sesuatu yang mendatang dan merasuk ke dalam
pikiran manusia. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah di
atas) fitroh Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitroh itu.
Tidak ada perubahan pada fitroh Allah.” (Ar-Ruum:30)
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,
“Setiap
anak yang lahir, dilahirkan atas fitroh, maka kedua orang tuanya yang
menjadikannya Yahudi, Nashroni, atau Majusi” (HR.Al-Bukhari)
Berarti asal yang tertanam pada diri manusia secara fitroh adalah bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta`ala.
Kesyirikan adalah Sebab Perselisihan Manusia
Mulai
masa Nabi Adam `alaihis-salam sampai kurun waktu yang cukup panjang
setelahnya, manusia senantiasa berada di atas Islam sebagai agama
tauhid. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Dahulu
manusia itu adalah ummat yang satu. maka Allah mengutus para nabi
sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.”
(Al-BaQaroh: 213)
Kesyirikan
berawal pada masa kaum Nabi Nuh `alaihis-salam. Maka Allah mengutus
Nabi Nuh `alaihis-salam sebagai rasul yang pertama. Allah ta`ala
berfirman,
“Sesungguhnya
Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan
wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya.” (An-Nisaa`: 163)
Jarak
antara Nabi Adam dan Nabi Nuh `alaihimas-salam adalah sepuluh generasi
yang seluruhnya berada di atas Islam. Sebagaimana penjelasan Ibnu `Abbas
radhiyallahu ta`ala `anhu.
Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa ini merupakan pendapat yang benar. (Al-MuntaQao min Ighootsatil Lahafaan hal. 440)
Ubay bin Ka`ab rodiyallahu ‘anhu membaca firman Allah ta`ala dalam surat Al-BaQaroh ayat ke-213 dengan bacaan sebagai berikut,
“Dahulu
manusia itu adalah ummat yang satu, lalu mereka berselisih, maka Allah
mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi
peringatan.”
Bacaan Ubay bin Ka`ab di atas dikuatkan oleh firman Allah ta`ala:
“Dahulu manusia hanyalah ummat yang satu, kemudian mereka berselisih.” (Yuunus: 19)
Maksud
pernyataan Ibnul Qayyim yang terdahulu bahwa para nabi diutus karena
perselisihan manusia. Mereka telah keluar dari agama yang benar
sebagaimana yang mereka pegangi sebelumnya.
Dahulu
bangsa Arab juga berada di atas agama Nabi Ibrahim `alaihis salam yaitu
at-tauhid. hingga datang `Amr bin Luhai Al-Khuza`i lalu merubah agama
Nabi Ibrahim `alaihis-salam. Melalui orang ini tersebar penyembahan
terhadap berhala di bumi Arab, terlebih khusus wilayah Hijaz. Maka Allah
subhanahu wa ta`ala mengutus Nabi kita Muhammad shallallohu `alaihi wa
sallam menjadi nabi yang terakhir.
Rasulullah
shallallohu `alaihi wa sallam menyeru manusia kepada agama tauhid dan
mengikuti ajaran Nabi Ibrahim `alaihis-salam. Beliau berjihad di jalan
Allah dengan sebenar-benarnya. Sampai tegak kembali agama tauhid dan
runtuh segala penyembahan terhadap berhala. Saat itulah Allah
menyempurnakan agama dan nikmat-Nya bagi alam semesta.
Selanjutnya
generasi yang terbaik dari umat ini berjalan di atas ajaran tauhid.
Namun setelah masa mereka berlalu umat ini kembali didominasi oleh
berbagai kebodohan. Mereka terkungkung dengan berbagai pemikiran baru
yang mengembalikan kepada syirik. Bahkan pengaruh dari agama-agama lain
cukup kuat mewarnai semangat keagamaan yang mereka miliki.
Sejarah
penyebaran syirik terulang pada umat ini disebabkan para penyeru
kesesatan. Sebab lain yang tak kalah penting adalah pembangunan
kuburan-kuburan dalam rangka pengagungan terhadap para wali dan
orang-orang shalih secara berlebihan.
Dengan
demikian maka kuburan menjadi tempat pengagungan lantas menjadi berhala
yang disembah selain Allah. Berbagai amalan diperuntukkan bagi kuburan
baik berupa doa, penyembelihan, nadzar dan yang selainnya. (lihat
Kitabut-tauhid karya DR.As- Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 6-7)
Itulah
fenomena sejarah perjalanan agama umat manusia sampai zaman ini.
Hari-hari belakangan kesyirikan telah sedemikian dahsyat melanda kaum
muslimin. Sedikit sekali di antara mereka orang yang mengerti tentang
tauhid dan bersih dari syirik. As-Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alu
As-Syaikh pernah berkata: “Di awal umat ini jumlah orang yang bertauhid
cukup banyak sedangkan di masa belakangan jumlah mereka sedikit”.
(Qurratul-`Uyuun hal.24)
Kita
mendapatkan perkara tauhid sebagai barang langka di kehidupan sebagian
masyarakat muslimin. Tidak dengan mudah kita menemuinya walaupun mereka
mengaku sebagai muslimin. Maka perlu untuk membangkitkan kembali
semangat bertauhid di tengah umat ini. Karena tauhid adalah hak Allah
yang paling wajib untuk ditunaikan oleh manusia.
Tauhid, Hak Allah atas Segenap Manusia
Sesungguhnya
tauhid adalah hak Allah yang paling wajib untuk ditunaikan oleh
manusia. Allah tidaklah menciptakan manusia kecuali untuk bertauhid.
Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Ad-Dzaariyaat: 56)
Sebagian ulama menafsirkan kalimat:
“supaya menyembah-Ku”
dengan makna:
“supaya mentauhidkan-Ku”
(Lihat Al-Qaulul Mufiid karya Syaikh Ibnu `Utsaimin jilid 1 hal. 20)
Jika
peribadahan kepada Allah tidak disertai dengan bertauhid maka tidak
akan bermanfaat. Amalan mana pun akan tertolak dan batal bila dicampuri
oleh syirik. Bahkan bisa menggugurkan seluruh amalan yang lain bila
perbuatan syirik yang dilakukan dalam kategori syirik besar. Allah
subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. (Al-An`aam:88)
“Jika
kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah
kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)
Dua
ayat ini merupakan peringatan Allah ta`ala kepada para nabi-Nya. Lalu
bagaimana dengan yang selain mereka? Tentu setiap amalan yang mereka
lakukan adalah sia-sia bila tanpa tauhid dan bersih dari syirik.
Tauhid
adalah hak Allah subhanahu wa ta`ala sebagai Pencipta, Pemilik dan
Pengatur alam semesta ini. Langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada
di dalam keduanya terwujud karena penciptaan Allah subhanahu wa ta`ala.
Allah
menciptakan seluruhnya dengan hikmah yang sangat besar dan keadilan.
Maka layak bagi Allah subhanahu wa ta`ala untuk mendapatkan hak
peribadahan dari para makhluk-Nya tanpa disekutukan dengan sesuatu apa
pun.
Allah
telah menciptakan manusia setelah sebelumnya mereka bukan sesuatu yang
dapat disebut. Keberadaan mereka di alam ini merupakan kekuasaan Allah
yang disertai dengan berbagai curahan nikmat dan karunia-Nya.
Allah
telah melimpahkan sekian kenikmatan sejak manusia masih berada di dalam
perut ibunya, melewati proses kehidupan di dalam tiga kegelapan. Pada
fase ini tidak ada seorang pun yang bisa menyampaikan makanan serta
menjaga kehidupannya melainkan Allah subhanahu wa ta`ala. Ibunya sebagai
penghubung untuk mendapatkan rezeki dari Allah ta`ala.
Tatkala
lahir ke dunia, Allah ta`ala telah mentakdirkan baginya kedua orang tua
yang mengasuhnya sampai dewasa dengan penuh kasih sayang dan tanggung
jawab.
Itu
semua adalah rahmat dan keutamaan Allah ta`ala terhadap segenap makhluk
yang dikenal dengan nama manusia. Jika seorang anak manusia lepas dari
rahmat dan keutamaan Allah walaupun sekejap maka dia akan binasa.
Demikian pula jika Allah ta`ala mencegah rahmat dan keutamaan-Nya dari
manusia walaupun sedetik, niscaya mereka tidak akan bisa hidup di dunia
ini.
Rahmat
dan keutamaan Allah yang sedemikian rupa menuntut kita untuk mewujudkan
hak Allah yang paling besar yaitu beribadah kepada-Nya. Allah subhanahu
wa ta`ala tidak pernah meminta dari kita balasan apa pun kecuali hanya
beribadah kepada-Nya semata.
Peribadahan
kepada Allah bukanlah sebagai balasan setimpal atas segala limpahan
rahmat dan keutamaan Allah bagi kita. Sebab perbandingannya tidak
seimbang. Dalam setiap hitungan nafas yang kita hembuskan maka di sana
ada sekian rahmat dan keutamaan Allah yang tak terhingga dan ternilai.
Oleh
karenanya nilai ibadah yang kita lakukan kepada Allah tenggelam tanpa
meninggalkan bilangan di dalam lautan rahmat dan keutamaan-Nya yang tak
terkejar oleh hitungan angka. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Kami
tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.
Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thaha:
132)
Ketika
manusia beribadah kepada Allah tanpa berbuat syirik maka
kemaslahatannya kembali kepada dirinya sendiri. Allah akan membalas
seluruh amal kebaikan manusia dengan kebaikan yang berlipat ganda dan
seluruh amal keburukan mereka dengan yang setimpal.
Peribadahan manusia tidaklah akan menguntungkan Allah dan bila mereka tidak beribadah tidak pula akan merugikan-Nya.
Manusia
yang sadar tentang kemaslahatan dirinya akan beribadah kepada Allah
tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Itulah tauhid yang harus
dibersihkan dari berbagai noda syirik. Kesyirikan hanya menjanjikan
kesengsaraan hidup di alam akhirat.
Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Sesungguhnya
orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah
mengharamkan kepadanya surga, dan tempat kembalinya ialah neraka,
tidaklah ada bagi orang-orang dzolim itu seorang penolong pun.”
(Al-Maaidah: 72)
Sementara mentauhidkan Allah dalam beribadah menghantarkan kepada keutamaan yang besar di dunia dan akhirat.
Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Orang-orang
yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kedzoliman,
bagi mereka keamanan dan mereka mendapatkan petunjuk.” (Al-An`aam: 82)
Kedzoliman
yang dimaksud dalam ayat ini ialah kesyirikan sebagaimana yang
ditafsirkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dalam hadits
Ibnu Mas`ud. (HR. Bukhari)
Sebagai
penutup kami mengajak kepada segenap kaum muslimin untuk beramai-ramai
menyambut keberuntungan ini. Jangan kita lalai sehingga jatuh ke dalam
lubang kebinasaan yang mendatangkan penyesalan di kemudian hari. Allah
subhanahu wa taala berfirman:
“Katakanlah:
“Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan
diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang
demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Az-Zumar: 15)
Wallohu a`lam bish-shawaab.
Menggapai Keutamaan Tauhid
Dalam
tulisan yang lalu telah dijelaskan tentang keharusan manusia untuk
beribadah kepada Allah semata tanpa berbuat syirik sedikit pun. Itulah
yang disebut dengan tauhid uluhiyyah. Seorang muslim adalah yang
mengamalkan tauhid uluhiyyah setelah mengakui tauhid rububiyyah.
Sehingga tauhid ini menjadi tema pembahasan kita.
Tauhid
adalah ajaran keselamatan yang dibawa oleh para nabi. Tak seorang nabi
pun melainkan menyeru umatnya kepada tauhid. Sebab tauhid merupakan inti
ajaran agama samawi. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman:
“Dan
sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut.” (An-Nahl:
36)
“Dan
Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami
wahyukan kepadanya: ‘Bahwasannya tiada ilah (yang berhak disembah)
melainkan Aku, maka beribadahlah kamu sekalian kepadaku.” (Al-Anbiyaa`:
25)
Para
nabi menyeru umatnya kepada tauhid karena memiliki keutamaan yang
sangat besar. Nasib baik umat manusia di dunia dan akhirat bergantung
kepada perealisasian tauhid. Demikian pula keselamatan hanya bisa diraih
dengan bertauhid.
Allah
telah menjanjikan kepada orang-orang yang bertauhid berbagai keutamaan.
Semua itu sebagai pelecut bagi kaum muslimin untuk menggapai keutamaan
tauhid tersebut.
Sumber : http://alhujjah.wordpress.com/tauhid/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar