Lentera ilahi.blogspot.com, Al Andalus berarti “untuk menjadi hijau pada akhir musim panas” dan
merujuk pada wilayah yang diduduki oleh kerajaan Muslim di Spanyol
Selatan yang meliputi kota-kota seperti Almeria, Malaga, Zadiz, Huelva,
Seville, Cordoba, Jaen dan Granada.
Andalusia terletak di benua Eropa barat daya dengan batas-batas
ditimur dan tenggara adalah laut tengah, diselatan benmua Afrika yang
terhlang oleh selat Gibraltar, dibarat samudra atlantik dan utara ole
teluk Biscy. Pegunungan Pyneria ditimur laut membatasi Andalusia dengan
Prancis. Andalusia adalah sebutan pada masa Islamm bagi daerah yang
dikenal dengan senanjung Liberia (kurang lebih 93 % wilayah Spanyol,
sisanya Portugal) dan Vadalusia. Sebutan ini berasal dari kata
Vandalusia, yang berarti negeri bangsa vandal, karena bagian selatan
semenanjung itu pernah dikuasai oleh bangsa Vandal sebelum mereka diusir
ke Afrika Utara oleh Bangsa Goth pada abad ke 5 M.
Kondisi sosial masyarakat Andalusia menjelang penaklukan Islam sangat memperihatinkan. Masyarakat terpolarisasi ke dalam beberapa kelas sesuai dengan latar belakang sosialnya. Sehingga ada masyarakat kelas satu,dua dan tiga. Kelompok masyarakat kelas satu, yakni penguasa, terdiri atas raja, para pangeran, pembesar istana, pemuka agama dan tuan tanah besar. Kelas dua terdiri atas tuan-tuan anak kecil. Tuan tanah kecil adalah golongan rakyat kecil adalah golongan rakyta kelas dua (second citizen). Kelompok masyarakat kelas tiga terdiri atas pada budak termasuk budak tani yang nasibnya tergantung pada tanah, penggembala, nelayan, pandai besi, orang Yahudi dan kaum buruh dengan imbalan makan dua kali sehari. Mereka tidak dapat menikmati hasil tanah yang mereka grap. Rakyat kelas dua dan tiga yang sangat teritindas oleh kelas atas banyak lari ke hutan karena trauma dengan penindasan para penguasa. Demi mempertahankan hidup, mereka terpaksa harus mencari nafkah dengan jalan membunuh, merampas atau membajak. Dekadensi moral mereka itu bersamaan dengan jatuhnya ekonomi mereka.
Kondisi sosial masyarakat Andalusia menjelang penaklukan Islam sangat memperihatinkan. Masyarakat terpolarisasi ke dalam beberapa kelas sesuai dengan latar belakang sosialnya. Sehingga ada masyarakat kelas satu,dua dan tiga. Kelompok masyarakat kelas satu, yakni penguasa, terdiri atas raja, para pangeran, pembesar istana, pemuka agama dan tuan tanah besar. Kelas dua terdiri atas tuan-tuan anak kecil. Tuan tanah kecil adalah golongan rakyat kecil adalah golongan rakyta kelas dua (second citizen). Kelompok masyarakat kelas tiga terdiri atas pada budak termasuk budak tani yang nasibnya tergantung pada tanah, penggembala, nelayan, pandai besi, orang Yahudi dan kaum buruh dengan imbalan makan dua kali sehari. Mereka tidak dapat menikmati hasil tanah yang mereka grap. Rakyat kelas dua dan tiga yang sangat teritindas oleh kelas atas banyak lari ke hutan karena trauma dengan penindasan para penguasa. Demi mempertahankan hidup, mereka terpaksa harus mencari nafkah dengan jalan membunuh, merampas atau membajak. Dekadensi moral mereka itu bersamaan dengan jatuhnya ekonomi mereka.
Penaklukan oleh pasukan atas Andalusia member dampak positif yang
luar biasa. Andalusia dijadikan tempat ideal dan pusat pengembangan
budaya. Ketika peradaban Eropa tenggelam dalam kegelapan dan kehancuran,
obor Islam menyinari seluruh Eropa melalui Adalusia, kepada bangsa
Vandhal, Goth dan berber. Islam menegakkan keadilan yang belum dikenal
sebelumnya. Rakyat jelata tertindas yang hidup dalam kegelapan mendapat
sinar keadilan, memiliki kemerdekaan hidup dan menentukan nasibnya
sendiri. Para budak pada bangsa Goth dimerdekakan oleh para penguasa
Muslim dan diberi pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Sikap
toleransi kaum muslim adalah perjanjian damai dengan pihak para penguasa
yang telah ditaklukan. Kebebasan, persamaan dan persaudaraan yang
diterapkan, memungkinkan bangsa-bangsa yang ditaklukkan itu ikut ambil
abgian dalam pemerintahan bersama-sama dengan para penguasa Muslim. Jadi
Islam tidak mengenal adanya perbedaan kasta dan keyakinan. Saat
ditaklukan, tingkat peradaban Andalusia sangat rendah dan keadaan
umumnya begitu menyedihkan, sehingga kaum Muslim lebih banyak mengajar
dari pada belajar. Eropa sendiri di satu pihak diganggu oleh bangsa
Berber Jerman. Sementara itu filsafat Yunani dan ilmu pengetahuan telah
lama pindah tempat ke Syria dan Persia.
Penaklukan semenanjung ini diawali dengan pengiriman 500 orang tentara muslim dibawha pimpinan Tarif bin Malik pada Ramadhan tahun 91 H/710 M. Ia dan pasukannya mendarat disebuah tempat yang diberi nama Tarifa. Ekspedisi ini berhasil dan tariff kembali ke Afrika Utara membawa banyak ghanimah. Musa bin Nushair, Gubernur Jenderal Al Maghrib di Afrika Utara kala itu, kemudian mengirimkan 7000 orang tentara dibawah pimpinan Thariq bin Ziyad. Ekpsedisi kedua ini mendarat dibukit karang Gibraltar (Jabal At Thariq ) pada tahun 92 H/711 . Diatas bukit itu, Thariq berpidato untuk membangkitkan semngat juang pasukannya, karena tentara musuh yang akan dihadapi jumlahnya 100.000 orang. Thariq mendapat tambahan 5000 orang tentara dari Afrika Utara sehingga total jumlah pasukannya menjadi 12.000 orang.
Penaklukan semenanjung ini diawali dengan pengiriman 500 orang tentara muslim dibawha pimpinan Tarif bin Malik pada Ramadhan tahun 91 H/710 M. Ia dan pasukannya mendarat disebuah tempat yang diberi nama Tarifa. Ekspedisi ini berhasil dan tariff kembali ke Afrika Utara membawa banyak ghanimah. Musa bin Nushair, Gubernur Jenderal Al Maghrib di Afrika Utara kala itu, kemudian mengirimkan 7000 orang tentara dibawah pimpinan Thariq bin Ziyad. Ekpsedisi kedua ini mendarat dibukit karang Gibraltar (Jabal At Thariq ) pada tahun 92 H/711 . Diatas bukit itu, Thariq berpidato untuk membangkitkan semngat juang pasukannya, karena tentara musuh yang akan dihadapi jumlahnya 100.000 orang. Thariq mendapat tambahan 5000 orang tentara dari Afrika Utara sehingga total jumlah pasukannya menjadi 12.000 orang.
Pertempuran pecah didekat muara sungai Salado (Lagend Janda) pada
bulan Ramadhan 92 H/19 Juli 711. Pertempuran ini mengawali kemenangan
Thariq dalam pertempuran-pertempuran berikutnya, sampai akhirnya Toledo,
ibukota Gothia Barat, dapat direbut pada bulan September tahun itu
juga. Bulan Juni 712 M. Musa berangkat ke Andalusia membawa 18.000 orang
tentara dan menyerang kota-kota yang belum ditaklukkan oleh Thariq
sampai bulan Juni tahun berikutnya. Di kota kecil Talavera, Thariq
menyerahkan kepemimpinan pada Musa. Pada saat itu pula Musa mengumumkan
Andalusia menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Bani Umayyah yang
berpusat di Damaskus. Penaklukan selanjutnya diarahkan ke kota-kota
bagian utara hingga mencapai kaki pengunungan Pyrenia. Di balik
pegunungan itu terbentang tanah Galia dibawah kekuasaan bangsa Prancis.
Musa berambisi menaklukkan wilayah dibalik pegunungan itu, namun
khalifah al walid tidak merestuinya bahkan ia memanggil Musa dan Thariq
untuk pulang ke Damaskus. Sebelum berangkat Musa menyerahkan kekuasaan
kepada Abd Al Aziz bin Musa. Abd Aziz berhasil menaklukkan Andalusia
sudah jatuh ke tangan umat Islam, kecuali Galicia sebuah kawasan yang
terjal dan tandus di bagian barat laut semenanjung itu.
Andalusia menjadi salah satu propinsi dari daulah Bani Umayyah sampai
tahun 132 H/ 750 M. Selama periode tersebut, para gubernur Umawiyah di
Andalusia berusaha mewujudkan impian Musa bin Nushair untuk menguasai
Galia. Akan tetapi, dalam pertempuran Poitiers didekat Tours pada tahun
114 H / 732 M tentara Islam dibawah pimpinan Abd Al – Rahman Al – Ghafiq
di pukul mundur oleh tentara Nasrani Eropa dibawah pimpinan Kartel
Martel. Itulah titik akhir dari serentetan sukses umat Islam diutara
pegunungan Pyneria. Setelah itu mereka tidak pernah meraih kemenangan
yang berarti dalam menghadapi serangan balik kaum Nasrani Eropa. Ketika
daulah Bani Umayyah runtuh pada tahun 132 H / 750 M. Andalusia menjadi
salah satu propinsi dari daulah Bani Abbas sampai Abd Al Rahman bin
Muawiyah, cuvu khalifah Umawiyah kesepuluh hisyam bn Abd Malik,
memproklamasikan propinsi itu sebagai Negara yang berdiri sendiri pada
tahun 138 H/756 M. Sejak proklamasi itu. Andalusia memasuki babak baru
sebgai sebuah Negara berdaulat dibawah kekuasaan Bani Umayyah II yang
beribukota di Codova sampai tahun 422 H/1031.
Sejak pertana kali menginjakkan kaki ditanah Andalusia hingga jatuhny
kerajaan Islam terakhir disana, Islam memainkan peranan yang sangat
yang dilalui umat Islam di Andalusia dapat dibagi menjadi enam periode:
- Periode Pertama (711 – 755 M)
Pada periode ini, Andalusia berada dibawah pemerintahan para wali
yang diangkat oleh khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Pada
periode ini stabilitas politik Andalusia belum tercapai secara
sempurna, gangguan – gangguan masih terjadi baik dari dalam maupu luar.
Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan diantara elit
penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan, terutama antara
Basbar asal Afrika Utara dan Arab. Didalam etnis arab sendiri, terdapat
dua golongan yang terus menerus bersaing, yaitu suku Qaisy (Ara Utara)
dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini seringkali
menimbulkna konflik politik, terutama ketika tidak ada figus penguasa
yang tangguh. Itulah sebabnya di Andalusia pada saat itu, tidak ada
gubernur yang mampu mempertahankan kekuasannya dalam jangka eaktu yang
agak lama.
Gangguan dari luar dari sisa-sisa musuh lama di Andalusia yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam. Karena seringnya konflik internal dan berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Andalusia belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abd AL Rahman Al Dakhil pada tahun 138 H/755 M.
Gangguan dari luar dari sisa-sisa musuh lama di Andalusia yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam. Karena seringnya konflik internal dan berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Andalusia belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abd AL Rahman Al Dakhil pada tahun 138 H/755 M.
- Periode Kedua (755-912 M)
Pada periode ini, Andalusia berada di bawah pemerintahan amir, tetapi
tumduk kepada pusat pemerintahan Islam yang ketika itu dipegang oleh
khalifah abbasiyah di Baghdad. Penguasa Andalusia pada periode ini
adalah Abd Al Rahman Al Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abd Al Rahman Al
Ausath, Muhammad bin Abd Al Rahman, Munzir bin Muhammad dan Abdullah bin
Muhammad.
Mengenai Ad Dakhil, diceritakan sewaktu dinasti bani umayyah tumbang
oleh dinasti abbasiyah terjadi pembunuhan massal dan pengejaran terhadap
sisa-sisa keluarga Umayah. Ia melarikan diri menyusuri Afrika Utara
hingga tiba di Meknes. Maroko dan pindah ke Melilla, dekat Ceuta di
pesisir laut tangah menghadap semenanjung Liberia. Inilah buat pertama
kalinya seorang pangeran Bani Umayyah masuk ke Andalusia, sehingga ia
mendapat gelar Ad Dakhil. Setelah melumpuhkan penguasa Andalusia, Yusuf
bin Abd Ar Rahman, ia akhirnya berkuasa disana.
Pada periode ini, Andalusia mulai memperoleh kemajuan-kemajuan, baik
dalam bidang politik maupun dalam bidang perdaban. Abd Al Rahman Al
Dakhil mendirikan masjid Cordova dan sekolah-sekolah dikota-kota besar.
Hisyam dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam dan Hukum dikenal
sebagai pembaharu dalam bidang militer. Dialah yang memprakasai tentara
bayaran di Andalusia. Sedang Abd Al Rahman Al Ausath dikenal sebagai
penguasa yang cinta ilmu.
Para periode ini, berbagai ancaman dan kerusakan terjadi. Pada
pertengahan abad ke 9 M. Stabilitas munculnya gerakan Kristen fanatic
yang mencari kesyahidan (Martydom). Tetapi gerakan ini tidak mendapat
simpati dikalangan intern Kristen sendiri, karena pemerintahan Islam
kala itu mengembangkan kebebasan beragama. Peribadatan tidak dihilangi,
bahkan mereka juga tidak dihalangi bekerja sebagai pegawai pemerinthan
atau emnajdi karyawan pada intansi militer. Gangguan politik paling
serius dating dari umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo
pada tahun 852 M membentuk Negara kota dan bertahan sampai 80 tahun.
Disamping itu, sejumlah orang yang tidak puas terhadap penguasa
melancarkan revolusi, yang terpenting diantaranya pemberontakan Hafshun
dan anaknya yang berpusat dipegunungan dekat Malaga.
- Periode Ketiga (912-1013 M)
Pada periode ini, Andalusia diperintah oleh penguasa dengan gelar
khalifah. Penggunaan gelar ini berawal dari berita bahwa al muktadir.
Khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh
pengawalnya sendiri. Maka Abdurrahman III menilai bahwa keadaan ini
menunjukkan suasana pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam kemelut.
Ia berpendapat bahwa saat ini merupakan moment yang paling tepat untuk
mmakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan Bani Umayyah
selama 150 tahun lebih. Maka dari itu, gelar khalifah ini mulai dipakai
sejak tahun 929 M Khalifah besar yang memerintah pada periode ini yaitu
Abd Al Rahman Al Nasir (912-916 M), Hakam II (961-976M) dan Hisyam II
(976-1009M).
Pada periode ini, Andalusia mencapai puncak kemajuan dan kejayaan,
menyaingi Baghdad di timur. Al Nashir mendirikan universitas di cordova
yang perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga
juga seoreang kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Pada masa ini,
masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan
kota berlangsung cepat.
- Periode ke empat ( 1013 – 1086)
Pada periode ini Andalusia terpecah menjadi lebih 20 kerajaan kecil.
Masa ini disebut Muluk al – Thawaif (Raja Golongan ) mereka mendirikan
kerajaan berdasarkan etnis Barbar. Slovia ata u Andalus yang bertikai
satu sama lain sehingga menimbulka keberania umat Kristen di utara untuk
menyerang. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, para pihak
yangbertikai sering meminta bantuan kepada raja – raja Kristen. Periode
ini meskipun terjadi ketidakstabilan tetapi dalam bidang peradaban
mengalami kemajuan karena masing – masing ibu kota kerajaan local ingin
menyaingi Cordova sehingga muncullah kota –kota besar seperti Toledo,
Sevilla, Malaga, dan Granada.
- Periode ke lima ( 1086 – 1248)
Pada periode ini meskipun Andalusia terpecah – pecah dalam beberapa
Negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yakni dinasti
Murabhitun (1086-1143) dan dinasti Muwahidun (1146-1235 M). murabhitun
pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf bin
Tasytin di afrika utara. Ia masuk ke Andalusia atas undangan penguasa
islam disana yang tengah menikul beban berat perjuangan mempertahankan
negri dari serangan orang Kristen. Ia dan tentaranya masuk Andalusia
pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan castilia. Karena
perpecahan dikalangan raja- raja muslim, yusuf melangkah lebih jauh
untuk menguasai Andalusia dan berhasil. Tetapi sepenggantinya adalah
raja – raja yang lemah. Pada tahun 1143 M, kekuasaan dinasti ini
berakhir baik di afrika utara maupun Andalusia sendiri.
Sepeninggal murabhitun, muncul-muncul dinasti kecil, tapi berlangsung
tiga tahun. Pada tahun 1146 M, dinasti muwahidun di afrika utara yang
didirikan oleh mehammad bin tumart. Dinasti ini datang ke Andalusia
dibawah pimpinan abd al mun’im. Antara tahun 1114 dan 1115 M, kota-kota
muslim penting di Andalusia seperti cordova. Almeria dan cannada jatuh
di bawah kekuasaannya. Untuk jangka beberapa decade, dinasti ini
mengalami banyak kemajuan. Kekuatan – kekuatan Kristen dapat dipukul
mundur akan tetapi, tidak lama setelah itu Muwahhidun mengalami
keambrukan. Tentara Kristen, pada tahun 1212 M, mendapat kemenangan
besar di Las Navas de Tolesa. Kekalahan – kekalahan yang dialami oleh
Muwahhidun memaksa penguasanya keluar dari Andalusia dan kembali ke
afrika utara pada tahun 1235 M. Tahun 1238 M cordova jatuh ke tangan
penguasa Kristen dan Seville jatuh di tahun 1248 M. Seluruh Andalusia
kecuali Granada lepas dari kekuasaan islam.
- Periode ke enam (1248 – 1492)
Pada periode ini, islam hanya berkuasa di daerah Granada. Di bawah
dinasti bani ahmar (1232-1492 M) yang didrikan oleh Muhammad bin Yusuf
bin Nasr bin al-Ahmar. Peradaban mengalami kemajuan tetapi hanya
berkuasa di wilayah yang kecil seperti pada masa kekuasaan Abdurrahman
an –Nashir. Namun pada decade terkhir abad 14 M, dinasti ini telah lemah
akibat perebutan kekuasaan. Kesempatan ini dimanfaatkan olen kerajaan
Kristen yang telah mempersatukan diri melalui pernikahan antar Esabella
dan Aragon dengan raja Ferdinand dari Castilla untuk bersama – sama
merebut kerajaan Granada. Pada tahun 1487 menguasai Almeria tahun 1492
menguasai Granada. Raja terakhir Granada, Abu Abdullah, melarikan diri
ke afrika utara.
Pada akhir abad ke 14 M pihak Kristen sangat antusias untuk
mengkristenkan pemeluk yahudi dan muslim. Pada 1391 yahudi dipaksa
menerima Baptisme tahun 1478 program pemaksaan agama diresmikan dan
memerintahkan yahudi untuk memilih baptisme atau pengusiran. Tahun 1492
nyaris seluruh pemeluk yahudi diusir dari Andalusia.
Gerakan reconquisa terus berlanjut. Tahun 1499, kerajaan Kristen
Granada melakukan pemaksaan orang islam untuk menganut Kristen dan buku –
buku tentang islam di bakar. Tahun 1502 kerajaan Kristen ini
mengeluarkan perintah supaya orang islam Granada keluar dari negri ini
kalau tidak mau menjadi Kristen. Umat islam harus memilih antara masuk
Kristen atau keluar dari andalus sebagai orang terusir. Maka banyak
orang islam yang menyembunyikan keislamannya dan melahirkan
kekristenannya. Timbul pula pembrontakan – pembrontakan. Pada tahun
1596, muslim Granada membrontak dibantu oleh kerajaan usmaniyah. Antara
tahun 1609-1614 M kira-kira sekitar setengah juta kaum muslimin
Andalusia pindah ke afrika utara. Ini merupakan perpindahan terakhir
umat islam Andalusia. Sejak saat itu tak ada lagi umat islam di
Andalusia.
- Kemajuan peradaban
- Di bidang Ilmu Pengetahuan
Pemisahan Andalusia dari bagdad secara politis, tidak berpengaruh
terhadap transisi keilmuwan dan peradaban antara keduanya. Banyak muslim
Andalusia yang menuntut ilmu di negri islam belahan timur dan tidak
sedikit pula ulama dari timur yang mengembangkan ilmunya di Andalusia.
Prestasi umat islam dalam memajukan ilmu pengetahuan tidak diperoleh
secara kebetulan, melainkan dengan kerja keras melauli beberapa tahapan
system pengembangan. Mula – mula dilakukan beberapa penerjemah kitab –
kitab klasik yunani, romawi, india , Persia. Kemudian dilakukan
pensyarahan dan komentar terhadap terjemahan tersebut, sehingga lahir
komentator-komentator muslim kenamaan. Setelah itu dilakukan koreksi
teori – teori yang sudah ada, yang acap kali melahirkan teori baru
sebagai hasil renungan pemikir – pemikir muslim sendiri. Oleh karena
itu, umat islam tidak hanya berperan sebagai jembatan penghubung warisan
budaya lama dari zama klasik ke zaman baru. Terlalu banyak teori
orisinil temuan mereka yang besar sekali artinya sebagai dasar ilmu
pengetahuan modern.
Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan filsafat pada masa itu tidak
terlepas kaintannya dari kerjasam yang harmonis antara penguaa, hartawan
dan ulam. Umat islam di Negara – Negara islam waktu itu berkeyakinan
bahwa memajukan ilmu pengetahuan dan kebudayaaan umumnya, merupakan
salah satu kewajiban pemerintahan. Kesadaran kemanusiaan dan kecintaan
akan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh para pendukung ilmu telah
menimbulkan hasrat untuk mengadakan perpustakaan – perpustakaan,
disamping mendirikan lembaga – lembaga pendidikan.
Sekolah dan perpustakaan umum maupun pribadi banyak dibangun
diberbagai penjuru kerajaan, sejak dari kot besar sampai ke desa-desa.
Andalusia pada kala itu sudah mencapai tingkat peradaban yang sangat maju, sehingga hamper tidak ada seorangpun penduduknya yang but huruf. Dalam pada itu, eropa Kristen baru mengenal asas-asas pertam ilmu pengetahuan, itupun tebatas hanya pada beberapa orang pendeta saja. Dari Andalusia ilmu pengetahuan dan peradaban arab mengalir ke Negara-negara eropa Kristen, melalai kelompok – kelompok terpelajar mereka yang pernah menuntut ilmu di universitas Cordova, Malaga, Granada, sevilla atau lembaga – lembaga ilmu pengetahuan lainnya Andalusia. Yang pada gilirannya kelak akan mengantarkan eropa memasuki periode baru masa kebangkitan. Bidang – bidang ilmu pengetahuan yang paling menonjol antara lain:
Andalusia pada kala itu sudah mencapai tingkat peradaban yang sangat maju, sehingga hamper tidak ada seorangpun penduduknya yang but huruf. Dalam pada itu, eropa Kristen baru mengenal asas-asas pertam ilmu pengetahuan, itupun tebatas hanya pada beberapa orang pendeta saja. Dari Andalusia ilmu pengetahuan dan peradaban arab mengalir ke Negara-negara eropa Kristen, melalai kelompok – kelompok terpelajar mereka yang pernah menuntut ilmu di universitas Cordova, Malaga, Granada, sevilla atau lembaga – lembaga ilmu pengetahuan lainnya Andalusia. Yang pada gilirannya kelak akan mengantarkan eropa memasuki periode baru masa kebangkitan. Bidang – bidang ilmu pengetahuan yang paling menonjol antara lain:
a) Filsafat
Islam di Andalusia telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat
brilian dalam bentangan sejarah islam. Ia berperan sebagai jembatan
penyeberangan yang di lalui ilmu pengetahuan Yunani Arab ke Eropa abad
ke 12 minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan
pada abad ke-9 selama pemerintahan bani umayyah. Tokoh pertama dalam
sejarah filsafat Andalusia dalah Abu Bakr Muhammad bin al-Syaigh yang
terkenal dengan nama Ibnu Bajjah. Karyanya adalah Tadbir al-muwahhid,
tokoh kedua adalah Abu Bakr bin Thufail yang banyak menulis masalh
kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang terkenal
adalah Hay bin Yaqzhan. Tokoh terbesar dalam bidang filsafat di
Andalusia adalah Ibnu Rusyd dari cordova. Ia menafsirkan maskah – naskah
aristoteles dan menggeltuti masalah – masalah menahun tentang
keserasian filsafat agama.
b) Sains
Ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi dan kimia berkembang
dengan baik di Andalusia. Ibarhim bin yahya al Naqqash terkenal dalam
ilmuastronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan
berhasil membuat teropong yang dapat menentukan jarak tata surya dan
bintang. Ahmad bin abbas dari cordova adalah ahli dalam bidang obat –
obatan. Umm al-hassan bint abi ja’far dan saudara perempuan al hafidz
adalah dua orang dokter dari kalangan wanita.
Di bidang sejarah dan geografi, muncul ibnu jubair yang menulis
negeri–negeri muslim mediterania dan ibnu batutah yang mengadakan
ekspedisi hingga mencapai samudra pasai dan cina. Ibnu al-khatib
menyusun riwayat Granada sedang Ibnu khaldun dari tunis adalah perumus
filasafat sejarah.
c) Fiqh
Andalusia mayoritas menganut madhzab maliki, yang pertama kali
diperkenalkan oleh ziyyad bin abd al-rahman. Ahli – ahli fiqih lainnya
diantaranya adalah ibnu yahya, seorang qadhi, kemudian abu bakar al
quthiyah, munzir bin sa,if al-baluthi dan ibnu hazim yang terkenal.
d) Musik dan Kesenian
Dibidang ini dikenal seorang tokoh bernama Hasan bin Nafi yang
berjuluk Zaryah. Dia juga terkenal sebagai penggubah lagu dan sering
mengajarkan ilmunya kepada siapa saja sehingga kemasyhurannya makin
meluas.
e) Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan
islam di Andalusia. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan
non Islam. Bahkan penduduk asli Andalusia menomorduakan bahasa asli
mereka. Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab baik
ketrampilan bahasa maupun tata bahasa Tokohnya antara lain : Ibnu
Sayyidh, Ibn Malik pengarang alfiyah, Ibn Khuruf, Ibn al-hajj, Abu Ali
al-Isybili, Abu al-Hasan bin Usfur dan Abu Hayyan al-Gharmatti dan
muncul banyak karya sastra seperti al-iqd al-farid karya ibn abd rabbib,
al-Dzakhirah fii Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam dan kitab
al-Qalaid karya al-Fath bin Khaqan.
- Di bidang pembanguna fisik
Samah bin Malik menjadikan cordova sebagai ibu kota propinsi
Andalusia menggantikan sevilla pada tahun 100H/719M. Ia membangun tembok
dinding kota, memugar jembatan tua yang dibangun penguasa romawi dan
membangun kisaran air. Ketika ad-Dakhil berkuasa, cordova diperindah
serta dibangun benteng di sekeliling kota dan istana. Air danau
dialirkan melalui pipa-pipa ke istana dan rumah penduduk. Kebanggan
cordova lainnya adalah al-Qashr al-Kabir, alRushafa, masjid jami’
cordova, jembatan cordova, al-Zahra dan al-Zahirah
Al-Qashr al-Kabir adalah kota satelit yang dibangun ad-Dakhil dan disempurnakan oleh beberapa penggantinya. Didalamnya dibangun 430 gedung yang diantaranya merupakan istana – istana megah. Al-Rushafa adalah sebuah istana yang dikelilingi taman yang luas dan indah, yang dibangun ad-Dakhil yang masih tgak berdiri hingga sekarang adalah masjid jami’ cordova didirikan tahun 170H/786M dengan dana 80.000 dinar.
Al-Qashr al-Kabir adalah kota satelit yang dibangun ad-Dakhil dan disempurnakan oleh beberapa penggantinya. Didalamnya dibangun 430 gedung yang diantaranya merupakan istana – istana megah. Al-Rushafa adalah sebuah istana yang dikelilingi taman yang luas dan indah, yang dibangun ad-Dakhil yang masih tgak berdiri hingga sekarang adalah masjid jami’ cordova didirikan tahun 170H/786M dengan dana 80.000 dinar.
Masjid ini memiliki sebuah menara yang tingginua 20 meter terbuat
dari marmer dan sebuah kubah besar yang didukung oleh 300 buah pilar
yang terbuat dari marmer pula. Ditengah masjid terdapat tiang agung yang
menyangga 1000 lentera. Ada Sembilan buah pintu yang dimiliki masjid
ini, semuanya terbuat dari tembaga kecuali pintu maqsurah yang terbuat
dari emas murni. Ketika cordova jatuh ke tangan Fernando III pada tahun
1236, masjid ini dijadikan gereja dengan nama santa maria, tetapi
dikalangan orang Andalusia lebih popular dengan ia mezquita, berasal
dari bahasa arab al-Masjid.
Al-Nashir pada tahun 325 H/ 936 M membangun kota satelit dengan nama
salah seorang selirnya al-Zahra. Kemegahannya hamper menyamai al-Qashr
al-Kabir. Ia dilengkapi taman indah yang disela-selanya mengalir air
dari gunung, danau kecil berisi ikan beraneka warna dan sebuah taman
margasatwa. Sementara pada tahun 368 H / 978 M Al Manshur membangun kota
Al Zairah dipinggir Wadi Al Kabir, tidak jauh dari Cordova. Al Zahirah
dilengkapi dengan taman – taman indah, pasar, toko , masjid dan bangunan
umum lainnya.
- Analisis Kemajuan Peradaban Andalusia
Salah Satu mengapa Andalusia mengalami kemajuan pesat di dalam
peradabannya menurut penulis salah satunya disebabkan policy dari para
penguasanya yang mempelopori berbagai kegiatan ilmiah. Meskipun ada
ketegangan politik dengan Baghdad timur tapi tidak selalu terjadi
konfrontasi militer. Banyak para sarjana Islam dari wilayah Barat
menimpa ilmu di Timur dengan membawa bukum teori dan gagasan
pengetahuan, begitu pula sebaliknya. Jadi meskipun umat islam terpecah
secara politik tapi tetap dalam bingkai kesatuan budaya dunia Islam.
Perpecahan politik pada periode Al Muluk Al Thawa’if tidak menyebabkan
mundurnya ilmu pengetahuan dan peradaban, bahkan setiap penguasa di
negeri-negeri kecil tersebut saling berkompetensi dalam ilmu pengetahuan
terutama usaha untuk menyaingi Cordova.
Sedang aspek kehancuran Andalusia dari berbagai literature menurut
penulis disebarkan karena adanya konflik dengan Kristen. Islami yang
terjadi kurang sempurna. Kerajaan – kerajaan Kristen taklukan asal tidak
melakukan perlawanan militer dibiarkan mempertahankan hukum dan adat
mereka, yang pada gilirannya akan menciptakan kubu komunitas berbeda
antara Arab Islam dengan Andalusia Kristen yang memicu adanya
nasionalisasi. Pada periode kemunduran Islam, kerajaan-kerajaan Kristen
ini akhirnya dapat menghimpun kekuatan untuk mengenyahkan Islam dari
Andalusia tertama karena kondisi Andalusia yang yang terpencil secara
militer, sehingga sulit mendapat bantuan militer kecuali hanya dari
Afrika Utara.
Faktor krusial lainnya didalam intern umat Islam telah terdapat
perpecahan. Terutama masalah yang berkaitan dengan etnis dan sosial.
Sering dijumpai konflik antara komunitas Arab Utara dan Arab Selatan,
antara Barbar dengan arab Selatan, antara Barbar dengan Arab serta
problem naturalisasi bagi para mukallaf, yang masih dipandang sebelah
mata, terutama dengan pemberian term ibad dan muwalladun yang
bertedetensi merendahkan. Yang paling fatal lagi adalah tidak adanya
mekanisme yang jelas dalam suksesi kepemimpinan. Sehingga sering
menimbulkan gejolak politik yang melemahkan Negara.
Dari aspek pengaruh peradaban Andalusia terhadap kebangkitan Eropa
(renaissance) adalah dipicu dengan banyaknya kaum terpelajar Eropa yang
belajar di pusat-pusat studi di Andalusia sehingga menyerap berbagai
gagasan dan pola pemikiran berbagai tokoh pengetahuan seperti Ibnu Rusyd
serta berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa melalui terjemahan Arab
yang dipelajari, yang kemudian di konversi ke bahasa latin. Yang pada
akhirnya mempercepat terjadinya proses reformasi, rasionalisasi hingga
pada fase pencerahan di Eropa.
Sumber : http://blog.uin-malang.ac.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar