Sebagaian makanan sangat baik dan bergizi bagi tubuh dan
otak manusia. Tetapi sebaliknya yang tidak pernah disadari bahwa
sebagian makanan pada anak tertentu khususnya penderita alergi atau
hipersensitifitas saluran cerna justru dapat berdampak buruk bagi otak
dan perilaku manusia dewasa. Setelah menghindari makanan tertentu
seperti coklat, keju dan makanan sejenisnya perilaku emosi, gangguan
tidur dan gangguan konsentrasi seseorang secara drastis membaik.
Sementara pada beberapa kasus lainnya ternyata penderita gangguan
migrain, vertigo, sakit kepala, kejang yang tidak dikertahui sebabnya
saat melakukan penghindaran makanan tertentu ternyata membuat berbagai
keluhannya membaik tanpa minum obat. Belakangan banyak penelitian
mengungkapkan beberapa jenis makanan dengan mekanisme tertentu ternyata
sangat mempengaruhi gangguan fungsi otak, perilaku dan emosi seseorang.
Setiap mendengar keluhan gangguan kulit karena makanan, pasti alergi
dianggap sebagai biang penyebabnya. Masih banyak masyarakat awam bahkan
beberapa kalangan klinisi menganggap semua gangguan kulit karena makanan sering disebut sebagai alergi makanan.
Padahal sebenarnya reaksi yang disebabkan karena makanan bukan hanya
karena reaksi alergi makanan. Istilah umum untuk reaksi yang tidak
diinginkan terhadap makanan yang masuk saluran cerna manusia sering
disebut sebagai reaksi simpang makanan. Reaksi tersebut dapat
diperantarai oleh mekanisme yang bersifat imunologi, farmakologi,
toksin, infeksi, idiosinkrasi, metabolisme serta neuropsikologis
terhadap makanan. Reaksi simpang makanan bisa karena reaksi toksis
seperti keracunan makanan. Selain itu bisa karena reaksi non toksis
dengan melalui mekanisme imunologis seperti reaksi alergi makanan,
penyakit celiac, gangguan absorbsi protein dan sindrom heiners.
Sedangkan reaksi non toksis yang melalui mekanisme non imunologis adalah
intoleransi makanan, reaksi psikologis dan sebagainya. Dari semua
reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan dan zat aditif makanan
hanya sekitar 20% disebabkan karena alergi makanan.
Alergi makanan adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak
organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap makanan.
Dalam beberapa kepustakaan alergi makanan dipakai untuk menyatakan suatu
reaksi terhadap makanan yang dasarnya adalah reaksi hipersensitifitas
tipe I dan hipersensitifitas terhadap makanan yang dasarnya adalah
reaksi hipersensitifitas tipe III dan IV.
Intoleransi makanan adalah reaksi makanan nonimunologik dan merupakan
sebagian besar penyebab reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan.
Reaksi ini dapat disebabkan oleh zat yang terkandung dalam makanan
karena kontaminasi toksik (misalnya toksin yang disekresi oleh
Salmonella, Campylobacter dan Shigella, histamine pada keracunan ikan),
zat farmakologik yang terkandung dalam makanan misalnya tiramin pada
keju, kafein pada kopi atau kelainan pada pejamu sendiri seperti
defisiensi laktase, maltase atau respon idiosinkrasi pada pejamu.
Reaksi simpang makanan yang juga sering dilaporkan adalah penyakit
Celiac. Gangguan ini melalui mekanisme imunologis. Tidak seperti alergo
makanan, pada penyakit Celiac immunoglobulin E tidak berperanan dalam
proses penyakit. Penyakit. Celiac adalah penyakit kronik inflamasi
saluran cerna khususnya pada usus halus. Kelainan tersebut dipicu oleh
reaksi lambat terhadap protein gluten. Gluten adalah bahan makanan
sejenis tepung, sehingga penyakit ini disebut juga Gluten-sensitive
Enteropathy. Penyakit ini terjadi pada anak laki dan perempuan. Di Eropa
kasus ini cukup tinggi, yaitu sekitar 1 dari 100 orang, bahkan di
Inggris sekitar 1 : 77 orang, New Zealand sekitar 1 : 88 orang, di
Amerika laporan kasus tidak sebanyak di Eropa. Kasus ini belum banyak
dilaporkan di Indonesia, mungkin karena perhatian klinisi masih sangat
kurang ditambah alat bantu diagnosis kelainan ini belum selengkap di
luar negeri. Di praktek sehari-hari penulis mulai sering menjumpai
penderita yang dicurigai sebagai kasus ini. Para pakar ahli pencernaan
dunia melaporkan sebenarnya prosentase kasus ini di dunia tidaklah
sedikit yaitu sekitar 3 – 5 promil perpenduduk. Gejalanya ditandai
dengan gangguan kenaikkan berat badan, gangguan saluran cerna dan
gangguan kulit (dermatitis herpetiformis).
Sumber : http://allergyclinic.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar