Reaksi simpang makanan pada umumnya mengganggu saluran cerna tubuh.
Beberapa gejala gangguan saluran cerna tersebut sebenarnya sudah tampak
sejak lahir. Sejak usia awal kehidupan tampak bayi sering rewel,
kolik/menangis terus menerus tanpa sebab pada malam hari, sering
cegukan, sering “berak geden”, kembung, sering gumoh, berak berwarna
hitam atau hijau, berak timbul warna darah. Sering mengalami ganguan
buang air besar, bisa sulit buang air besar (tidak tiap hari) atau
sering buang air besar. Lidah berwarna putih (“like moniliasis symtomp”)
dan drooling (ngiler). Sering timbul gangguan hernia umbilikalis,
scrotalis atau inguinalis.
Tampilan klinis gangguan saluran cerna pada anak yang lebih besar
adalah gangguan nyeri perut, sering buang air besar (>2
kali/perhari), gangguan buang air besar (kotoran keras, berak, tidak
setiap hari, berak di celana, berak berwarna hitam atau hijau, berak
ngeden), kembung, muntah, sulit berak, sering buang angin (flatus),
sariawan, mulut berbau. Nyeri perut, sering diare, kembung, sering mual
atau muntah, konstipasi (sulit berak) , kelaparan, haus, saliva (air
liur) meningkat, canker sores (sariawan), stinging tongue (lidah terasa
pedih), drooling (ngiler), nyeri gigi, burping (sendawa), retasting
foods, gejala sakit mag (nyeri perut ulu hati, muntah, mual,
“gelegekan”), swallowing difficulty (kesulitan menelan), abdominal
rumbling (perut keroncongan), konstipasi (sulit buang air besar), nyeri
perut, passing gas (sering buang angin), timbul lendir atau darah dari
rektum, anus gatal atau panas. Bila terjadi gangguan saluran cerna
sering disertai kesulitan makan atau gangguan motorik kasar oral (sulit
mengunyah langsung ditelan).
Reaksi simpang makanan sering disertai dengan gangguan kulit. Pada
bayi sering timbul penebalan merah di daerah pipi popok dan telinga,
timbul kerak di kulit kepala. Pada anak yang lebih besar tampak sering
gatal, dermatitis, urticaria (biduran), bengkak di bibir, lebam biru
kehitaman pada kaki (seperti bekas terbentur), bekas hitam seperti
digigit nyamuk, timbul kulit keputihan (seperti panu) dan berkeringat
berlebihan. Pada penyakit celiac gangguan kulit berupa dermatitis
herpetisformis dan kulit teraba kasar atau kering. Penderita celiac
biasanya mengalami gagal tumbuh atau badan kecil dan sangat kurus
meskipun banyak makan. Pada penderita reaksi simpang makanan genetik
yang kronis seperti penyakit celiac biasanya disertai gangguan
kekurangan calsium, B12, B6 (piridoksin), vitamin E, Asam Folat,
Karnitin, dan biopterin.kes
MAKANAN, LEAKY GUT DAN GANGGUAN OTAK
Reaksi simpang makanan terjadi pada kelainan bawaan atau genetik
seperti alergi makanan, penyakit celiac, intoleransi makanan dan
sebagainya biasanya bersifat kronis atau berlangsung lama. Gangguan
perilaku yang diduga bersifat genetik seperti Autism, ADHD dan gangguan
perilaku lainnya juga sangat berkaitan dengan gangguan metabolisme
makanan dan pemberian makanan tertentu. Banyak penelitian menunjukkan
dengan melakukan penghindaran makanan tertentu maka gejala gangguan
fungsi tubuh dan perilaku dapat diminimallkan.
Reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan seringkali terjadi
dalam kehidupan sehari-hari. Sensitifitas terhadap makanan tertentu
mengakibatkan gangguan permeabilitas (kebocoran) pada saluran cerna atau
leaky gut. Banyak penelitian terakhir mengungkapkan bahwa gangguan
saluran cerna kronis dengan berbagai mekanisme imunopatofisiologis dan
imunopatobiologis ternyata dapat mengganggu susunan saraf pusat manusia.
Gangguan saluran cerna tersebut berkaitan gangguan penyerapan dan
metabolisme makanan tertentu yang mengakibatkan gangguan beberapa sistem
tubuh khususnya susunan saraf pusat atau otak.
Mekanisme bagaimana gangguan saluran cerna mengganggu system susunan
saraf pusat khususnya fungsi otak masih belum banyak terungkap. Namun
ada beberapa teori mekanisme yang bisa menjelaskan, diantaranya adalah
teori teori gangguan perut dan otak (Gut Brain Axis), pengaruh
metabolisme sulfat, gangguan organ sasaran, dan pengaruh reaksi hormonal
pada alergi.
Teori gangguan pencernaan berkaitan dengan sistem susunan saraf pusat
saat ini sedang menjadi perhatian utama. Teori inilah juga yang
menjelaskan tentang salah satu mekanisme terjadinya gangguan perilaku
seperti autism melalui Hipermeabilitas Intestinal atau dikenal dengan
Leaky Gut Syndrome. Secara patofisiologi kelainan Leaky Gut Syndrome
tersebut salah satunya disebabkan karena alergi makanan. Beberapa teori
yang menjelaskan gangguan pencernaaan berkaitan dengan gangguan otak
adalah :Kekurangan ensim Dipeptidalpeptidase IV (DPP IV). pada gangguan
pencernaan ternyata menghasilkan zat caseo morfin dan glutheo morphin
(semacam morfin atau neurotransmiter palsu) yang mengganggu dan
merangsang otak. Teori pelepasan opioid (zat semacam opium) ikut
berperanan dalam proses di atas. Hal tersebut juga sudah dibuktikan
penemuan seorang ahli pada binatang anjing. Setelah dilakukan stimulasi
tertentu pada binatang anjing, ternyata didapatkan kadar opioid yang
meningkat disertai perubahan perilaku pada binatang tersebut.
Teori Enteric nervous brain juga mungkin yang mungkin bisa menjelaskan adanya kejadian abdominal epilepsi,
yaitu adanya gangguan pencernaan khususnya nyeri perut yang dapat
mengakibatkan epilepsi (kejang) pada anak atau orang dewasa. Beberapa
laporan ilmiah menyebutkan bahwa gangguan pencernaan atau nyeri perut
berulang pada penderita berhubungan dengan kejadian epilepsi.
Alergi sebagai salah satu penyebab reaksi simpang makanan adalah
suatu proses inflamasi. Reaksi alergi tidak hanya berupa reaksi cepat
dan lambat tetapi juga merupakan proses inflamasi kronis yang kompleks.
Berbagai zat hasil, proses alergi seperti sel mast, basofil, eosinofil,
limfosit dan molekul seperti IgE, mediator sitokin, kemokin merupakan
komponen yang berperanan dalam peradangan di organ tubuh manusia. Gejala
klinis terjadi karena reaksi imunologik melalui pelepasan beberapa
mediator tersebut dapat mengganggu organ tertentu yang disebut organ
sasaran. Sistem Susunan Saraf Pusat atau otak juga dapat sebagai organ
sasaran. Otak adalah merupakan organ tubuh yang sensitif dan lemah.
Sistem susunan saraf pusat adalah merupakan pusat koordinasi tubuh dan
fungsi luhur. Maka bisa dibayangkan kalau otak terganggu maka banyak
kemungkinan manifestasi klinik ditimbulkannya termasuk gangguan perilaku
pada anak. Apalagi pada alergi sering terjadi proses peradangan lama
yang kompleks.
Seperti pada penderita intoleransi makanan, mungkin juga pada alergi
makanan terdapat gangguan metabolisme sulfat pada tubuh. Gangguan
Metabolisme sulfat juga diduga sebagai penyebab gangguan ke otak. Bahan
makanan mengandung sulfur yang masuk ke tubuh melalui konjugasi fenol
dirubah menjadi sulfat dibuang melalui urine. Pada penderita alergi yang
mengganggu saluran cerna diduga juga terjadi proses gangguan
metabolisme sulfur. Gangguan ini mengakibatkan gangguan pengeluaran
sulfat melalui urine, metabolisme sulfur tersebut berubah menjadi
sulfit. Sulfit inilah yang menggakibatkan gangguan kulit (gatal) pada
penderita. Diduga sulfit dan beberapa zat toksin inilah yang dapat
menganggu fungsi otak. Gangguan tersebut mengakibatkan zat kimiawi dan
beracun tertentu yang tidak dapat dikeluarkan tubuh sehingga dapat
mengganggu otak.
Keterkaitan hormon dengan peristiwa alergi dilaporkan oleh banyak
penelitian. Sedangkan perubahan hormonal itu sendiri tentunya dapat
mengakibatkan manifestasi klinik tersendiri. Para peneliti melaporkan
pada penderita alergi terdapat penurunan hormon seperti kortisol,
metabolik. Hormon progesteron dan adrenalin tampak cenderung meningkat
bila proses alergi itu timbul. Perubahan hormonal tersebut ternyata
dapat mempengaruhi fungsi susunan saraf pusat atau otak . Diantaranya
dapat mengakibatkan keluhan gangguan emosi, gampang marah, kecemasan,
panik, sakit.
Sumber : http://allergyclinic.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar