Gempa bumi terus melanda Myanmar. Pada Selasa (13/11) pagi gempa
melanda kawasan dekat ibu kota Myanmar, Naypyitaw. Sejak akhir pekan,
korban gempa Myanmar tercatat sebanyak 26 jiwa.
Stasiun televisi pemerintah Myanmar mengabarkan, gemba baru
mengguncang selatan Naypyitaw sekitar pukul 08.23 waktu setempat. Pusat
gempa berskala 4,8 skala richter tersebut berpusat 35 kilometer dari ibu
kota.
Menurut kesaksian seorang pejabat pemerintahan, kota Naypyitaw memang
langganan gempa. Namun gempa kali ini menurutnya tak mengakibatkan
kerusakan. "Kami di Naypyitaw tak asing dengan gempa bumi. Kami bergegas
keluar dari asrama, tapi kami sempat panik pagi tadi," ujarnya.
Sebelumnya di pada Ahad (11/11), gempa pun mengguncang Myanmar jauh
lebih besar dari Selasa. Gempa Ahad berkekuatan 6,8 skala richter
disertai gempa susulan.
Menurut Federasi Internasional Palang Merah (IFRC), 26 orang tewas
akibat gempa di Myanmar, 231 orang luka-luka dan ratusan bangunan rusak.
Namun laporan awal dari pemerintah Myanmar menyebutkan korban tewas
hanya 11 orang.
"Sulit menghitung tepat, kemungkinan ada perhitungan ganda," kata
Direktur Operasional 'Save The Children' di Myanmar, Denis de Poerck.
Juru Bicara IFRC di Asia Tenggara Roux Katherine mengatakan pihaknya
telah mengirimkan bantuan. Namun Palang Merah Myanmar masih mampu
mengatasi korban tanpa bantuan luar.
"Palang Merah Myanmar telah siap, hingga saat ini belum membutuhkan
bantuan luar ataupun pendanaan. Ini masih di bawah kendali, tapi ada
tinjauan lanjut," tuturnya.
Myanmar merupakan salah satu negara termiskin di Asia. Rezim militer
dikecam badan kemanusiaan pada tahun 2008 karena tak mengizinkan bantuan
internasional untuk mengatasi Topam Nargis. Padahal 130 ribu orang
tewas dalam bencana tersebut. Namun pemerintah baru mengambil alih
Myanmar pada Maret 2011 dan mulai membuka negara Asia Tenggara tersebut
dari rezim militer yang berkuasa 50 tahun.
Sumber : http://www.republika.co.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar