Lenterailahi.blogspot.com ,Empat sehat lima sempurna bukan lagi ukuran untuk mencapai standar gizi dan kesehatan, terutama untuk anak-anak
Selama
ini masyarakat salah kaprah mengenai program makanan sehat tersebut.
Seharusnya masyarakat juga memerhatikan jumlah kalori yang diberikan
kepada anak, terutama anak usia sekolah.
Jumlah makanan ini
berkaitan juga dengan porsi makan anak yang harus disesuaikan dengan
kebutuhannya. Keseimbangan antara makanan sehat dan jumlah inilah yang
mengubah empat sehat lima sempurna menjadi makanan gizi seimbang.
Hal
ini disampaikan Duta Millennium Development Goals (MDGs) Utusan Khusus
Presiden Nila Djuwita F Moeloek dalam diskusi "Generasi Emas Bangsa
berkat Gizi Sehat" di Hotel Acacia, Jakarta, Sabtu (22/1/2011). Diskusi
ini mengangkat dampak kekurangan gizi anak sekolah dan
penanggulangannya.
"Selama ini kan masyarakat tahunya ini sudah
empat sehat lima sempurna. Ada nasi, lauk, sayur, buah, dan susu. Tapi,
sudahkan mengatur jumlah makanan tersebut? Belum bisa dibilang kita
makan dengan nasi dan ikan, tapi ikan asinnya satu saja. Atau,
memberikan anaknya makan dalam porsi besar. Itu kan berarti belum
memenuhi gizi seimbang. Anak jangan hanya dikasih makan. Kita harus tahu
juga berapa kalori yang dibutuhkan untuk anak, " kata Nila.
Jumlah
kalori yang dibutuhkan anak berbeda-beda. Anak usia sekolah yang belum
memasuki masa puber membutuhkan 1.600-2.500 kalori per hari. Memasuki
masa transisi menuju usia dewasa, sebagian besar anak perlu meningkatkan
asupan kalori menjadi 2.500-3.000 per hari. Jumlah ini juga disesuaikan
dengan aktivitas anak sehari-hari. Anak aktif tentu lebih banyak
membutuhkan asupan kalori.
Nila menambahkan, pola makan masyarakat
Indonesia juga harus diperbaiki untuk mencapai gizi seimbang. Selama
ini masyarakat cenderung tergantung pada nasi. Bahkan pemerintah juga
mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan akan beras. Padahal, di
Indonesia yang kaya akan makanan, beras bisa digantikan dengan jagung
atau ubi-ubian.
"Untuk memenuhi gizi juga tidak harus melulu nasi,
daging. Kita kan juga bisa mengganti dengan ubi, jagung, dan masih
banyak makanan pengganti yang lebih banyak mengandung protein tinggi,
bagus untuk anak-anak. Daging juga bisa diganti dengan ikan. Banyak
potensi, tapi sekarang tergantung orangtua, sudahkah memiliki
pengetahuan gizi baik untuk anak," ujarnya.
Menanggapi hal
tersebut, Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi Tirta Prawita Sari
mengatakan, orangtua dan anak perlu mendapat bimbingan dan pendidikan
tentang gizi seimbang bagi anak-anak usia sekolah.
Selain itu,
guru-guru di sekolah jangan hanya menekankan pada empat sehat lima
sempurna, tetapi juga gizi yang seimbang dari makanan tersebut.
"Memang
benar, anak jangan dikasih makan saja. Mereka juga perlu edukasi
makanan sehat. Tahun 2011 ini di daerah Jabodetabek kami berencana
memberikan pendidikan pada anak sekolah mengenai gizi seimbang. Mereka
juga diajari cara membuatnya sehingga mereka bisa menjadi agen yang
mengajarkan gizi seimbang kepada keluarga mereka di rumah, bukan lagi
empat sehat lima sempurna," Tirta menegaskan.
Sumber : Kompas.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar