Rabu, 21 November 2012

10 PENGHALANG UNTUK MENGIKUTI KEBENARAN

Lenterailahi.blogspot.com ,Ini merupakan suatu jawaban atas adanya masalah yang selama ini menggelayuti
kehidupan manusia sebagai suatu penghalang untuk mencapai kemaslahatan dunia dan
akhirat.
Setiap muslim pasti menginginkan agar dalam hidup di dunis ini dirinya
benar-benar berada diatas jalan yang haq atau di atas Shirathal Mustaqim, bahkan
kita selaluberdoa kepada Allah dalam shalat kita minimal tujuh belas kali sehari
dengan doa: “Ihdinash shirathal mustaqim (Berilah kami petunjuk ke jalan yang
lurus).”

Itulah doa yang selalu kita panjatkan, agar kita dapat tetap berjalan di atas
kebenaran, mengikuti jalan Islam yang haq, untuk taat kepada Allah,Untuk
meninggalkan perbuatan maksiat kepada-Nya, untuk mengikuti jejak Rasullallah dan
para sahabatnya, untuk menjauhi segala bentuk bid’ah dan kesesatan, untuk
merealisasikan itu semua tidaklah mudah, karena dia harus menghadapi banyak
rintangan dan godaan yang selalu menghalanginya dari kebenaran tersebut.

Di antaranya terdapat sepuluh sebab yang menghalangi manusia untuk mengikuti
kebenaran, antara lain sebagai berikut:

Kurangnya ilmu dan lemahnya tentang kebenaran 
Kita telah mengetahui, bahwa seorang muslim wajib untuk menuntut ilmu, karena
ilmu adalah cahaya, sedangkan kebodohan ialah kegelapan. Dengan ilmu ia dapat
membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Rasullulah berseru bahwa
“Menuntut ilmu itu ialah kewajiban bagi semua muslim.”

Ada duajenis tentara kebatilan yang masuk ke dalam hati manusia, yaitu para
tentara syahwat yang durjana dan tentara syubhat yang bathil. Orang yang hatinya
condong pada syubhat, maka hati, lisan amalan-amalannya berupa keraguan,
syubhat-syubhat dan tendensi-tendensi hawa nafsu. Adapun orang yang jahil
(bodoh) menyangka bahwa orang tersebut memiliki ilmu yang sangat luas! Padahal
sesungguhnya kosong dari ilmu dan keyakinan.

Adapun orang-orang yang diberikarunia oleh Allah berupa bashirah dapat
menyingkap hakekat dibalik segalasesuatu apakah berupa kebenaran atau
kebatilan.. Apabila kita hendak menelaah hakekat suatu pengertian, apakah dia
itu haq atau bathil, lepaskanlah dari semua pengaruh ungkapan kata-kata,
lepaskan diri kita dari sikap apriori aau simpati, kemudian setelah itu berikan
akal haknya untuk mempertimbangkan hal tersebut dengan pertimbangan yang
obyektif.
Hati yang kotor akibat maksiat

Al-Imam Ibnu Qayyim mengatakan: “Biasa jadi pengetahuan dia tentang ilmu
tersebut sempurna, tetapi tidak cukup dengan ilmu pengetahuan saja untuk bisa
mengikuti kebenaran. Ada syarat lain, yaitu harus bersih atau dia itu telah siap
untuk menerima kebenaran, siap untuk dibersihkan. Apabila dia sendiri belum
dibersihkan, maka kebenaran yang datang akan sulit diterima, apalagiuntuk
diikuti. ”

Dalam hal ini hati manusia dimana bila ia banyak berbuat dosa dan maksiat, jauh
dari aturan-aturan Allah, maka hatinya menjadi kotor.Bila perbuatan itu
terus-terusan terjadi maka ia tidak mengenal lagi mana yang baik dan yang
munkar, selanjutnya ilmu yang dimilikinya pun tidak akan bermanfaat lagi.

Sombong dan dengki

Sombong dan dengki menghalangi manusia untuk mengikuti kebenaran. Oleh karena
itu hati kita harus dibersihkan dari sifat sombong. Adapun hal yang menyebabkan
manusia bersifat sombong antara lain, karena ia merasa memiliki ilmu, baik ilmu
dunia maupun ilmu agama yang lebih dari yag lainnnya. Selain itu ialah harta,
keturunan, ketampanan dan kecantikan. Untuk mengendalikan hal itu kita harus
senantiasa ingat bahwa kita ini manusia, tempatnya berbuat salah dan dosa serta
diciptakan dari tanah dan tidak ada keunggulan darinya selain keimanan dan
ketaqwaan kepada Allah swt yang hanya Allah-lah tyang tahu siap manusia
bertaqwa.

Selain itu sifat buruk yang akan menghalangi kebenaran ialah sifat dengki. Pada
sifat ini akan merugikan diri sediri dan orang lain. Dimana dirinya akan merasa
tersiksa karena hatinya selalu tidak tenang bila melihat orang lain senang atau
mendapat kebakan dan merugikan orang lain karena orang yang dengki akan
melakukan apa saja untuk mencegah kebahagiaan atau kebenaran yang didapatkan
oleh orang lain.

Lebih mencintai kehormatan dari pada kebenaran
Hal ini terjadi pada orang yang tidak ingin kehilangan kewibawaannya bila ia
mengikuti jalan yang benar karena kebanyakan orang-orang berada di luar jalan
yang benar. Maka solusinya ialah menguatkan hati untuk tetap istiqomah dijalan
kebenaran apapun resiko yang akan dihadapi.

Syahwat dan harta
Syahwat dan harta bila tidak dikendalikan dengan baik makaakan menimbulkan mala
petaka pada orang yang bersangkutan dimana ia akan terhalang dari kebenaran.
Godaan syahwat bisa dicontohkan bila mana seorang muslim ataupun muslimah yang
digelapkan mata hatinya karena jatuh cinta pada orang diluar Islam sehingga ia
rela untuk meninggalkan keislamannya. Sedangkan contoh harta yang membawa petaka
ialah bila mana kita lebih mengutamakan harta kita dibandingkan kebenaran yang
harus dijalankan. Jalan yang harus kita tempuh untukmenghindari hal tersebut
ialah bersabar dalam keadaan apapun tetap yakin bahwa kebenaran akan membawa
kebahagiaan yang abadi.

Cinta kepada keluarga dan karib kerabat melebihi cintanya kepada kebenaran

Jika kita akan mengikuti kebenaran yang harus berbenturan dengan keluarga atau
dengan karib kerabat,dipastikan akan mengalami masa-masa sulit. Dimana hal ini
akan menjadi sebuah dilema bagi seseorang yang mengalaminya dimana dua hal yang
paling penting dalam hidupnya harus dipilih salah satu jalan kebenarankah atau
keluarga yang akan dipilih. Namun bila orang tersebut benar-benar memiliki
keimanan yang kuat maka dipastikan ia akan memilih jalan kebenaran sebagai
pilihan utamanya dengan menyadari berbagai resiko atau konsekuensi yang akan
dihadapi.

Lebih mencintai negara dan tanah air dari pada mencintai kebenaran
Pada bagian ini menerangkan tentang seseorang yang lebih memilih negara dan
tanah airnya dari pada menjalankan apa yang seharusnya dilakukan menurut islam.
Biasanya kenyataan seperti ini rentan pada orang yang imannya masih lemah. Oleh
karena itu untuk menghindari masalah ini maka pertebalah keimanan kita terhadap
Islam.

Mencintai nenek moyang melebihi cintanya kepada kebenaran

Seseorang pada pikirannya memiliki keyakinan kalau dia mengikuti dien yang Islam
benar, berarti ia melecehkan nenek moyangnya. Sehingga karena kecintaannya
kepada nenek moyangnya itu ia tidak bisa menerima Islam.

Contoh nyata kasus ini pada jaman Rasullullah SAW dimana paman Nabi , yaitu Abu
Thalib yang meyakini bahwa Nabi Muhammad itu benar ajarannya, bahkan ia selalu
membela dan melindungi Rasullullah SAW dari gangguan orang-orang kafir. Akan
tetapi ia sangat mencintai nenek moyangnya dari kalangan kafir yang menyembah
berhala. Ketika menjelang meninggalnya pun, Nabi Muhammad SAW Bersabda:
“Katakanlah, Laa ilaha illallah, maka engkau akan selamat ” Akan tetapi ada
dua orang musyrikin yang hadir dihadapannya. Mereka berkata kepada Abu Thalib :
“Apakah Engkau benci kepada Agama nenek moyang kita?” Akhirnya ia mati dalam
keadaan musyrik. Adanya permusuhan antara seseorang dengan yang lain, kemudian musuhnya mengikuti
kebenaran

Disebabkan oleh adanya permusushan pribadi antara seseorang dengan musuhnya,
pada akhirnya orang tersebut tidak mau mengikuti kebenaran seperti musuhnya. Hal
ini disebabkan oleh tabiat orang yang bermusuhan itu, masing-masing selalu ingin
tampil berbeda dengan musuhnya. Misal seseorang menjadi tidak berkenan untuk
pergi ke majelis ta’lim karena musuhnya pun pergi kemajlis ta’lim.
Seharusnya hal yang seperti ini tidak perlu terjadi karena kita harus memiliki
pegangan teguh terhadap jalan kebenaran walaupun musuhnya pun melakukan hal
serupa. Sebagaimana Sabda Allah SWT dalam QS. Al-Hujuraat:10 yang berbunyi
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah diantara
kedua saudaramu. ” Hal yang harus diperhatikan dalam menanggapi masalah ini
ialah mencoba mengintrospeksi diri serta berpikiran obyektif kepada diri sendiri
dan orang lain serta berlaku benar pada semua.


Penghalang berupa adat istiadat
Seseorang sejak keciltelah terbiasa menjalankan ajaranyang bersumber dari adat
istiadat sehingga sudah mendarah daging, kemudian datang seorang pemuka agama
Islam yang harus merubahnya, membawanya untuk mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah,
maka usaha ini bukanlah perkara yang mudah. Seorang juru dakwah harus membekali
dirinya dengan sabar dalam merubah pola pikir orang-orang yang didakwahinya.
Harus dipahami, bahwa untuk merubah tingkah laku seseorang itu perlu waktu,
tidak semudah yang kita kira. Di sini dituntut adanya kesabaran . Demikian juga
seseorang yang sudah terbiasa mengikuti adat-istiadat harus bisa meninggalkannya
apabila ternyata bertentangan dengan syari’at Islam. Diperbolehkan untuk
mengikuti adat istiadat selamaitu tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Adapun Firman Allah SWT yang menyatakan tentang adat istiadat ialah pada QS.
Al-An’aam:116 yang berbunyi “Dan jika kamu menuruti kebanyakanorang-orang
yang adadimuka bumi ini, niscaya
mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah
mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap
Allah).”


Bahaya Ambisi terhadap Harta dan Kehormatan
Seperti yang tertera dalam sebuah hadis dari Ka’ab Malik al-Anshari
bahwasannya Nabi Muhammad SAW mencontohkan kerusakan pada dien seorang muslim
dengan sebab ambisi terhadap harta dan kehormatan di dunia. Hadis ini
mengisyaratkan, bahwa orang yang berambisi terhadap harta dan kehormatan tidak
akan selamat dari keutuhan keislamannya, kecuali hanya sedikit yang selamat.

Ambisi terhadap harta
Ambisi terhadap harta terbagi menjadi dua, antara lain sebagai berikut:

Sangat cinta terhadap harta dan memforsir diri serta berlebih-lebihan dalam
mencarinya meskipun dengan cara yang halal

Walaupun akibat yang muncul dari ambisi terhadap harta hanyalah tersia-sianya
waktu dalam hidup ini, padahal hal yang memungkinkan bagi manusia untuk
memanfaatkan waktu tersebut untuk mencapai kedudukan yang yang lebih tinggi dan
kenikmatan yang abadi di sisi Allah SWT, cukuplah hal tersebut sebagai celaan
terhadap perbuatan ambisi terhadap harta.

Disamping yang pertama, dia mencari harta dari jalan-jalan yang haram dan
menahan hak-hak yang wajb ia berikan kepada orang lain

Ada beberapa hakikat pada bahasan ini antara lain, Hakekat asy-syuhh ialah
kecenderungan jiwa kepada apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan tidak puasnya
seseorang dari apa-apa yang dihalalkan oleh Allah, baik berupa harta, hubungan
seksual dan selainnya. Kemudian setelah itu ia melampaui batas dengan melakukan
perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

Sedangkan Al-bukhlu merupakan menahan diri dari mengeluarkan harta yang
dimilikinya.


Ambisi terhadap kehormatan
Ambisi terhadap kehormatan dibagi menjadi dua macam:

Mencari Kehormatan melalui jabatan, kekuasaan dan harta

Ketahuilah, bahwa ambisi terhadap kehormatan sangat membahayakan pelakunya,
dalam usahanya dalam mencapai tujuan, juga sangat membahayakan pelakunya, ketika
telah mendapatkan kehormatan di dunia, dengan cara mempertahankan statusnya
meskipun harus melakukan kezhaliman, kesombongan dan kerusak-rusakan yang lain,
sebagaimana dilakukan oleh penguasa yang zhalim.

Diantara bahaya dari ambisi terhadap kehormatan adalah biasanya orang yang
memiliki kehormatan karena harta atau kekuasaannya, ia akan suka dipuji karena
perbuatannya dan ia menginginkan pujian dari manusia, meskipun terkadang
perbuatan itu lebih tepat disebut sebagai perbuatan tercela dari pada perbuatan
terpuji. Orang yang tidak mengikuti keinginannya, dia tidak segan-segan
menyakiti dan menterornya.

Mencari kehormatan dan kedudukan yang tinggi di mata manusia melalui jalan
agama, misalnya seperti; ilmu, amal shalih dan zuhud

Bentuk seperti ini lebih keji dari yang pertama, lebih buruk, lebih berbahaya
dan lebih besar kerusakannya. Karena sesungguhnya ilmu, amal shalih dan zuhud
hanyalah dimaksudkan untuk mendapatkan ganjaran di sisi Allah SWT, berupa
kedudukan yang tinggi, kenikmatan yang langgeng dan kedekatan dengan-Nya. Pada
bagian ini pun terbagi dua, antara lain sebagai berikut:

Dimaksudkan untuk mencari harta. Ini termasuk ke dalam ambisi terhadap harta dan
mencarinya dengan jalan yang diharamkan.

Dimaksudkan untuk mencari pengaruh pada manusia dan agar dihormati oleh mereka,
agar mereka tunduk patuh kepadanya, agar ia menjadi pusat perhatian manusia,
untuk menampakan kepada manusia kelebihan ilmunya melampaui para ulama, maka
orang seperti ini bagiannya adalah neraka.

Sumber :  http://groups.yahoo.com/group/assunnah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar