Jumat, 01 Februari 2013

PKS, Dari Politik “Dagang Sapi” ke “Daging Sapi”



Lenteraillahi.com, ” Hancur ….Hancur….Hancur. Wis gendeng kabeh.” ucap kang Toha
” Ada apa kang Toha. Siapa ? yang hancur. Siapa ? yang guendeng !.” tanya pak Juki
” Bener kata Nasar. Imam saya, ustad saya, pemimpin saya sudah berani bermain api.” gerundel kang Toha
” Maksud kang Toha ? ” tanya pak Juki
” Apa pak Marjuki nggak baca berita, nggak melihat TV. Partai yang dianggap bersih dan masih mempertahankan idealisme harus hancur…hancur. PKS sudah menghancurkan reputasinya sendiri, sudah menaruh kotoran di muka sendiri. Pemimpinnya, imamnya, presidennya harus tersangkut kasus suap…ustad Lutfi Hasan Ishaaq ditangkap dan masuk bui KPK.” ucap kang Toha
” Wualah…kang Toha udah ketinggalan informasi. Pak Lutfi atau siapapun orang PKS tinggal tunggu “apes”nya.” ujar pak Juki


” Maksud pak Juki, apa memang sudah ada indikasi, ada tanda-tanda bahwa elit PKS itu mulai bermain api, main korupsi, main suap menyuap. Jadi apa yang disampaikan oleh ustad Yusuf Supendi, seorang pendiri Partai Keadilan, bahwa elit PKS sudah bergeser, elit PKS sudah berubah, sudah meninggalkan hidup yang sederhana, kini mulai terbukti.” ucap kang Toha
” Persis. Elit PKS sudah kedonyan, sudah hubbud-dunya, sudah silau dengan gemerlap kehidupan kekuasaan dan gemerlap kekayaan. Sudah jauh meninggalkan idealisme sebuah cita dan tujuan partai da’wah. Majalah Tempo edisi Maret 2011 sudah memuat permainan elit PKS dalam soal impor daging sapi. Siapa-siapa pengusaha yang mendapat kuota untuk impor daging dan siapa saja elit PKS yang bermain di situ. Dan kita sama tahu bahwa kementerian yang mengatur impor daging adalah kementerian pertanian dan elit PKS lah yang menjadi menterinya. Dan pertarungan dalam mendapatkan kuota impor daging sapi luar biasa, karena keuntungan yang diraih juga luar biasa. Pak Lutfi terlalu lugu barangkali atau tergiur dengan rayuan dan godaan . Atau jangan-jangan pak Lutfi dijebloskan dalam “perangkap” impor daging itu oleh orang dalam partai yang tidak suka, bisa juga oleh pihak yang ingin mengerdilkan PKS.” jelas pak Juki
” Saya ingat dulu PKS dianggap memainkan politik “dagang sapi” demi mendapatkan kursi menteri dalam pemerintahan SBY. Kini malah memainkan politik  ”daging sapi”. Setelah mendapatkan kursi menteri dengan cara-cara politik “dagang sapi”, kini elit PKS bermain politik “daging sapi” demi menggemukan pundi-pundi pribadi elit itu sendiri.” ucap kang Toha
” Setuju kang ! Dari politik “dagang sapi” ke politik “daging sapi”. Lalu apa kang Toha masih percaya bahwa partai yang mengaku-aku partai da’wah itu masih putih, masih bersih. Lalu apa bedanya PKS dengan partai-partai yang sekuler. Kalau elit partai Islam saja begini kelakuannya apatah lagi partai lain yang bukan islam.” kata pak Juki
” Maksud pak Marjuki, partainya pak SBY, partai Demokrat. Terus terang dengan kejadian ustad Lutfi digelandang dan dijebloskan ke penjara KPK, saya sudah antipati terhadap partai yang bau-bau agama, membawa-bawa agama, mengaku-aku sebagai partai Islam. Agama hanya jadi kosmetik, Islam hanya jadi alat  jualan demi meraih simpati rakyat dan ummat Islam khususnya. Padahal sebagai partai Islam, PKS  membawa beban dan tanggung jawab yang berat. Kini PKS jadi bahan tertawaan, jadi bahan celaan. Bahkan yang menista bahwa PKS, Presidenya Kesereduk Sapi. PKS itu Partai Kemasukan Sapi dan aneka cacian dan cibiran. W alaupun kita sama tahu, kasus  ini hanya menyangkut pribadi ustad Luthfi Hasan. Sialnya ustad Luthfi adalah presiden partai, pemimpin partai, imam dan panutan para kader dan simpatisan. Bagaimana jadinya kalau pemimpinnya, kalau imamnya kelakuannya macam begini. ” ujar kang Toha
” Walaupun masih banyak elit dan kader partai yang (merasa) bersih dan memiliki idealisme tinggi. Tetap saja kesan buruk sudah tercipta, dan ini tidak gampang dihapus dari benak masyarakat dan juga ummat. Dan saya yakin kasus ini jadi jualan lawan-lawan  PKS dalam Pilgub Jabar sebentar lagi. Saya jadi pengen tahu komentarnya Deddy Mizar sang cawagub yang diusung elit PKS untuk mendamping Aher sang petahana Jabar .” ujar pak Juki
” Bukan “Kisah Para Pencari Tuhan”, tetapi “Kisah Para Pencari Jarahan”. Jarahan komisi-komisi yang “disebarkan” para pengusaha yang ingin mendapatkan projek-projek dari anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah dan juga projek-projek perijinan semacam ijin impor daging sapi ini. ” kata kang Toha
” Semoga suara kang Toha didengar, jadi nanti seandainya Deddy Mizwar nggak terpilih. Siapa tahu Deddy kembali ke dunia film dan  bisa membuat sinetron dengan judul ” Para Pencari Jarahan”. Bukan begitu kang Toha.” usul pak Marjuki

Sumber : http://politik.kompasiana.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar