Daqyanus mengganut agama berhala dan memusuhi agama
Nasrani (Nabi Isa). Di dalam Surah Al-Kahf menceritakan 7 orang pemuda yang
beriman kepada Allah dan seekor anjingnya lari ke sebuah gua untuk
menyelamatkan diri dari ditangkap dan diseksa oleh Daqyanus. Antara kesan yang
masih boleh dilihat ialah sebuah Masjid dan mihrab di atas gua Kahfi, tengkorak
anjing dan tulang di dalam gua. Dalam pada itu, disebelah tepi terdapat lubang
terus ke atas yang mana cahaya matahari dapat menembusinya. Perihal mengenai
cahaya matahari yang menembusi ada diceritakan pada ayat ke-17 Surah Al-Kahf.
Gua ini juga dikenali sebagai Kahf Ar-Raqim. Istilah Al-Raqim disebut
di dalam Al-Quran pada ayat ke-9 Surah Al-Kahf dan ahli tafsir menyatakan
bahawa Al-Raqim ialah nama anjing pemuda pemuda tersebut dan ada sebahagian
yang lain mentafsirkan sebagai batu bersurat
Dalam surat al-Kahfi, Allah
SWT menceritakan tiga kisah masa lalu, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah pertemuan nabi Musa as dan nabi Khidzir as serta kisah Dzulqarnain. Kisah Ashabul Kahfi mendapat perhatian lebih dengan digunakan sebagai nama surat dimana terdapat tiga kisah tersebut. Hal ini tentu bukan kebetulan semata, tapi karena kisah Ashabul Kahfi, seperti juga kisah dalam al-Quran lainnya, bukan merupakan kisah semata, tapi juga terdapat banyak pelajaran (ibrah) didalamnya.
Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok orang beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika sang raja mengetahui ada sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja. Tapi Ashabul Kahfi menolak dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh. Ketika mereka lari dari kejaran pasukan raja, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai tempat persembunyian.
Dengan izin Allah mereka
kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali
ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja
yang beriman kepada Allah SWT (Ibnu Katsir; Tafsir al-Quran al-'Adzim; jilid:3
; hal.67-71).
Berikut adalah kisah Ashabul Kahfi (Penghuni Gua) yang ditafsir secara
jelas jalan ceritanya.....
Penulis kitab Fadha'ilul
Khamsah Minas Shihahis Sittah (jilid II, halaman 291-300), mengetengahkan suatu
riwayat yang dikutip dari kitab Qishashul Anbiya. Riwayat tersebut berkaitan
dengan tafsir ayat 10 Surah Al-Kahfi:
إِذْ أَوَى الفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
"(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo'a: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)" (QS al-Kahfi:10)
Dengan panjang lebar
kitab Qishashul Anbiya mulai dari halaman 566 meriwayatkan sebagai berikut:
Di kala Umar Ibnul
Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang kepadanya
beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah: "Hai
Khalifah Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya,
Abu Bakar. Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika
anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam
merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya,
jika anda tidak dapat memberi jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan
Muhammad bukan seorang Nabi."
"Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan,"
sahut Khalifah Umar.
"Jelaskan kepada
kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?" Tanya
pendeta-pendeta itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya. "Terangkan kepada
kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah
itu? Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan
kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin! Terangkan kepada kami
tentang lima jenis makhluk yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi
makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau atau induknya!
Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) di saat ia
sedang berkicau! Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang
berkokok! Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? Apakah
yang dikatakan oleh katak di waktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan
oleh keledai di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung
pipit pada waktu ia sedang berkicau?"
Khalifah Umar
menundukkan kepala untuk berfikir sejenak, kemudian berkata: "Bagi Umar,
jika ia menjawab 'tidak tahu' atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak
diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!''
Mendengar jawaban
Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri
melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata: "Sekarang kami bersaksi bahwa
Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!"
Salman Al-Farisi yang
saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu:
"Kalian tunggu sebentar!"
Ia cepat-cepat pergi ke
rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: "Ya Abal Hasan,
selamatkanlah agama Islam!"
Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya: "Mengapa?"
Salman kemudian
menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab. Imam
Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang
memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasul
Allah s.a.w. Ketika Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari
tempat duduk lalu buru-buru memeluknya, sambil berkata: "Ya Abal Hasan,
tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil!"
Setelah berhadap-hadapan
dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Ali bin Abi Thalib
herkata: "Silakan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan.
Rasul Allah s.a.w. sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari
ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam cabang ilmu!"
Pendeta-pendeta Yahudi
itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Ali bin Abi
Thalib berkata: "Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu
jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai
dengan yang ada di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan
beriman!"
"Ya baik!" jawab mereka.
"Sekarang tanyakanlah satu demi satu," kata Ali bin Abi Thalib.
Mereka mulai bertanya:
"Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?"
"Induk kunci
itu," jawab Ali bin Abi Thalib, "ialah syirik kepada Allah. Sebab
semua hamba Allah, baik pria maupun wanita, jika ia bersyirik kepada Allah,
amalnya tidak akan dapat naik sampai ke hadhirat Allah!"
Para pendeta Yahudi bertanya lagi: "Anak kunci apakah yang dapat
membuka pintu-pintu langit?"
Ali bin Abi Thalib
menjawab: "Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan
selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"
Para pendeta Yahudi itu
saling pandang di antara mereka, sambil berkata: "Orang itu benar
juga!" Mereka bertanya lebih lanjut: "Terangkanlah kepada kami
tentang adanya sebuah kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!"
"Kuburan itu ialah
ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera Matta," jawab Ali bin Abi
Thalib. "Nabi Yunus as. dibawa keliling ketujuh samudera!"
Pendeta-pendeta itu
meneruskan pertanyaannya lagi: "Jelaskan kepada kami tentang makhluk yang
dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan
bukan jin!"
Ali bin Abi Thalib
menjawab: "Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman putera Nabi Dawud
alaihimas salam. Semut itu berkata kepada kaumnya: "Hai para semut,
masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh
Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan mereka tidak sadar! "Para pendeta
Yahudi itu meneruskan pertanyaannya: "Beritahukan kepada kami tentang lima
jenis makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun di
antara makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau
induknya!"
Ali bin Abi Thalib
menjawab: "Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta
Nabi Shaleh. Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang
menjelma menjadi seekor ular). "Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi
itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Imam
Ali r.a. lalu mengatakan: "Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah
dan Muhammad adalah Rasul Allah!"
Tetapi seorang pendeta
lainnya, bangun berdiri sambil berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai
Ali, hati teman-temanku sudah dihinggapi oleh sesuatu yang sama seperti iman
dan keyakinan mengenai benarnya agama Islam. Sekarang masih ada satu hal lagi
yang ingin kutanyakan kepada anda."
"Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan," sahut Imam Ali.
"Coba terangkan
kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu sudah mati selama 309
tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah. Bagaimana hikayat tentang mereka
itu?" Tanya pendeta tadi.
Ali bin Ali Thalib
menjawab: "Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah para penghuni gua. Hikayat
tentang mereka itu sudah dikisahkan oleh Allah s.w.t. kepada Rasul-Nya. Jika
engkau mau, akan kubacakan kisah mereka itu."
Pendeta Yahudi itu
menyahut: "Aku sudah banyak mendengar tentang Qur'an kalian itu! Jika
engkau memang benar-benar tahu, coba sebutkan nama-nama mereka, nama ayah-ayah
mereka, nama kota mereka, nama raja mereka, nama anjing mereka, nama gunung
serta gua mereka, dan semua kisah mereka dari awal sampai akhir!"
Ali bin Abi Thalib
kemudian membetulkan duduknya, menekuk lutut ke depan perut, lalu ditopangnya
dengan burdah yang diikatkan ke pinggang. Lalu ia berkata: "Hai saudara
Yahudi, Muhammad Rasul Allah s.a.w. kekasihku telah menceritakan kepadaku,
bahwa kisah itu terjadi di negeri Romawi, di sebuah kota bernama Aphesus, atau
disebut juga dengan nama Tharsus. Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah
Aphesus (Ephese). Baru setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi
Tharsus (Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki). Penduduk negeri itu
dahulunya mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal dunia,
berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama Diqyanius. Ia
seorang raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia datang menyerbu negeri itu
dengan kekuatan pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Aphesus.
Olehnya kota itu dijadikan ibukota kerajaan, lalu dibangunlah sebuah
Istana."
Baru sampai di situ,
pendeta Yahudi yang bertanya itu berdiri, terus bertanya: "Jika engkau
benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku bentuk Istana itu, bagaimana serambi
dan ruangan-ruangannya!"
Ali bin Abi Thalib
menerangkan: "Hai saudara Yahudi, raja itu membangun istana yang sangat
megah, terbuat dari batu marmar. Panjangnya satu farsakh (= kl 8 km) dan
lebarnya pun satu farsakh. Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya
terbuat dari emas, dan lampu-lampu yang berjumlah seribu buah, juga semuanya
terbuat dari emas. Lampu-lampu itu bergelantungan pada rantai-rantai yang
terbuat dari perak. Tiap malam apinya dinyalakan dengan sejenis minyak yang
harum baunya. Di sebelah timur serambi dibuat lubang-lubang cahaya sebanyak
seratus buah, demikian pula di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak mulai
terbit sampai terbenam selalu dapat menerangi serambi. Raja itu pun membuat
sebuah singgasana dari emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di
sebelah kanannya tersedia 80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah
para hulubalang kerajaan duduk. Di sebelah kirinya juga disediakan 80 buah
kursi terbuat dari emas, untuk duduk para pepatih dan penguasa-penguasa tinggi
lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota di atas
kepala."
Sampai di situ pendeta
yang bersangkutan berdiri lagi sambil berkata: "Jika engkau benar-benar
tahu, coba terangkan kepadaku dari apakah mahkota itu dibuat?".........
Sumber : Lenteraillahi.bloggspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar