Tak dapat ditampik lagi bahwa pengaruh
bisnis Israel sudah masuk ke Indonesia. Sebagaimana dikutip dari
Kompas.com (16/11/2010), PT Bakrie and Brothers Tbk dan beberapa
perusahaan dalam Kelompok Usaha Bakrie menandatangani perjanjian jual
beli saham dengan Vallar Plc—perusahaan investasi milik Rothschild,
salah satu keluarga bankir terkaya di dunia yang kita tahu memegang
peran penting dalam bisnis keuangan di Amerika serikat. Bisnis Yahudi
bukan hanya bekerjasama dengan Group Bakrie, sebagian sektor
telekomunikasi Indonesia juga ditengarai sudah dimasuki kelompok bisnis
Yahudi ini. Bagi Yahudi, bisnis tak semata mata bisnis untuk mencari
keuntungan namun ada tujuan pokok dibaliknya yakni mengkooptasi
kekuasaan.
Mereka berusaha menancapkan kuku kekuasaannya di seluruh
dunia untuk memuluskan ide besar mereka membangun tata pemeritahan
tunggal dengan mendompleng politik luar negeri adidaya ini. Novus Ordo Seclorum
yang berada di bawah Kendali Zionisme Internasional inilah yang
bergerak melalui kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Upaya
mengkooptasi kekuasaan, bahkan dengan cara makar sekalipun, pernah
dilakukan Dinasti Yahudi di negara-negara Eropa dan Amerika. Awalnya
lewat pengusaan lewat sektor bisnis strategis, seperti telekomunikasi,
sumber daya alam, perbankan, persenjataan, pertaniaan, dan sebagainya,
yang berujung pada kooptasi kekuasaan.
Jika kita menengok sejarah Indonesia,
Tjarda van Starkenborch Stachouwer adalah Gubernur-Jendral pemerintahan
kolonial Hindia Belanda yang ke 66 dan yang memerintah dari tahun 1936
– 1942, secara resmi disebut berasal dari keluarga bangsawan Oranye,
namun ditengarai memiliki darah Yahudi. Pada masa pemerintahannya banyak
berdatangan bangsa Yahudi dari wilayah Arab ( waktu itu belum berdiri
negara Israel ) baik sebagai penguasaha, pedagang maupun bergabung
kedalam pasukan KNIL. Diantara pasukan KNIL yang berasal dari kaum
Yahudi ini kemudian bergabung kedalam pasukan TNI. Artinya, bahwa
nyatanya kaum Yahudi ini telah membaur dalam kehidupan sosial masyarakat
Indonesia sebagaimana etnis China sejak berdirinya NKRI. Kehidupan
sosial masyarakat yang terbuka seperti bangsa Indonesia pada dasarnya
tidak membedakan asal usul kebangsaan, tidak sebagaimana ajaran Islam
yang meyakini bahwa bangsa Yahudi adalah musuh agama. Antara realitas
kehidupan masyarakat dan pandangan ajaran agama memungkinkan bangsa
Yahudi ini hidup secara tenang di Indonesia. Dalam pemahaman sosiologi
politik dalam pandangan liberal, seseoang berhasil menjadi pemimpin
memerlukan syarat bahwa dia harus pandai, kaya, kuat dan licik. Apabila
syarat itu dimiliki oleh kaum Yahudi, mereka mampu memimpin di Indonesia
menjadi sebuah kewajaran. Artinya, keberhasilan bangsa Yahudi menguasai
bangsa Indoesia akan tergantung dari bangsa Indonesia juga. Jika
bangsa ini mampu mempengaruhi kebijakan luar negeri Amerika Serikat,
bukan tidak mungkin mereka juga mampu mengendalikan kebijakan pemerintah
Indonesia.
Memang sudah sejak lama, banyak analis
meyakini bahwa kelompok lobi Zionis sangat berpengaruh di AS dan mampu
mengendalikan kebijakan-kebijakan luar negeri AS. Berbagai tulisan
sudah mengungkap tentang hal ini, dan yang terbaru ditulis oleh Henri
Astier yang dimuat di BBC. Dalam artikel yang berjudul “US Storm Over Book on Israel Lobby“,
Astier menulis bahwa banyak komentator yang membantah kuatnya lobi
Zionis di pemerintahan AS, meski banyak fakta yang membuktikan bahwa
kalangan Yahudi AS telah memainkan peran yang sangat besar, meski jumlah
mereka sedikit hanya sekitar 2 persen dari jumlah populasi AS. Dalam
artikelnya Astir juga menulis, “Bagaimana lobi itu dilakukan? Apakah
pengaruhnya benar-benar legendaris atau hanya legenda? Dua akademisi
AS, John Mearsheimer dari Universitas Chicago dan Stephen Walt dari
Universitas Harvard, punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, dan
akibatnya memicu kontroversi. “ Dalam bukunya berjudul “The Israel Lobby and US Foreign Policy”
kedua penulis AS itu menulis bahwa AS harus menjelaskan alasannya
mendukung Israel. AS selama ini memberikan bantuan sebesar 3 milyar
dollar per tahun atau sekitar seperenam dari anggaran bantuang langsung
AS, untuk keperluan militer Israel. Tapi menurut Mearsheimer dan Walt,
AS hanya mendapat keuntungan sedikit dari kebijakannya itu dan mereka
menolak pendapat yang mengatakan bahwa Israel adalah sekutu kuat AS
dalam “perang melawan teror.” Menurut analisa Mearsheimer dan Walt
dalam bukunya, lobi-lobi Israel terutama berpengaruh pada finansial dan
keengganan AS untuk mengkritik Israel. Mereka menambahkan, sama seperti
kelompok-kelompok kepentingan lainnya, lobi Israel juga mempengaruhi
perdebatan di kalangan politisi dan komentator yang mengecam Israel,
namun lobi Israel menyebarkan pengaruhnya dengan efektif dan mainstream
media membalikkan opini negative kepada kedua penulis ini. Sebagaimana
seperti yang terjadi selama ini, Amerika Serikat tetap melanjutkan
kebijakan luar negerinya terhadap konflik Timur Tengah yang
menguntungkan Israel.
Keberhasilan bangsa Yahudi menguasai
Indonesia sesungguhnya sangat tergantung dari karakter bangsa Indonesia
sendiri. Mental korupsi, kolusi dan nepotisme yang sudah terbentuk sejak
zaman pemerintahan kolonial ini menjadi lahan empuk masuknya kekuasaan
bangsa asig termasuk bangsa Yahudi. Terlebih, selama bangsa ini tidak
dapat mensejajrkan dengan bangsa lain terutama dalam ekonomi,
ketergantungan ekonomi ini menjadikan bangsa Indonesia mempunyai
bargaining yang rendah terhadap bangsa lain. Seperti halnya terhadap
Singapura yang menjadi tempat perlindungan para koruptor atau
menggadaikan wilayah udara Indonesia kepada malysia dengan alasan bisnis
adalah sebagai bukti lemahnya bargaining pemerintah saat ini. Belum
lagi soal wilayah perbatasan yang masih terjadi silang sengketa, semakin
menggambarkan bahwa krisis moneter yang dialami oleh Indonesia telah
berimbas pada martabat bangsa.
SUMBER : http://politik.kompasiana.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar