![]() |
| Kartosuwiryo saat di eksekusi mati oleh tentara indonesia. |
Menurut Muhammad Iskandar, tentara Kartosoewirjo
dinilai bertindak sangat kejam. “Saya sebagai salah satu penduduk desa
saat itu melihat mereka berlaku arogan bahkan sampai ada kiai-kiai yang
sering ditodong dan buang air (besar) di sungai,” jelas pakar sejarah
dari Universitas Indonesia ini.
Namun pendapat Dr Muhammad Iskandar ini langsung dibantah seorang peserta seminar bernama Yayan.
Yayan yang sengaja datang jauh dari Tasikmalaya Jawa Barat menghadiri
acara seminar ini karena ia adalah seorang anggota DI/TII. Secara
gamblang ia bahkan mengakui bahwa keluarga besarnya adalah keturunan
DI/TII.
Dalam bantahannya, Yayan bercerita bahwa perilaku
tentara Kartosoewirjo yang disebut Iskandar sesungguhnya bagian dari
operasi inteligen.
Menurut Yayan, Suparjo-lah yang menyusupkan banyak
orang PKI kedalam tubuh DI/TII. Sejak dari situlah terbangun image
penghalalan segala cara. DI/TII pecah menjadi dua di tanah Jawa. DI/TII
Kartosoewirjo dan DI/TII dari operasi inteligen Suparjo. Perilaku yang
dikatakan bahwa tentara DI/TII tidak berakhlak sebenarnya bukanlah
tentara Kartosoewirjo. Semua itu adalah perilaku para penyusup agen
Suparjo yang mengaku-ngaku anggota DI/TII.
Menurut Yaya, TNI secara sengaja mengirimkan Danrem
Suparjo. Suparjo sendiri orang TNI yang merupakan kader PKI, ia juga
terlibat dalam pemberontakan PKI di Indonesia, jelas Yayan.
“Semua itu dilakukan untuk membangun citra buruk
mengenai Kartosoewirjo,” tambah Yayan yang sebelumnya juga memaparkan
fakta ini di depan peserta seminar.
Penggembosan terhadap Kartosoewirjo itu sendiri
dibenarkan oleh Wibisono. Wibisono adalah seorang yang telah bekerja
selama 32 tahun pada Badan Inteligen Negara (BIN). Menurut Wibisono,
sosok Kartosoewirjo adalah seorang pahlawan Indonesia. Kepentingan
Kartosoewirjo mendirikan Negara Islam Indonesia (NII) adalah aset dari
sejarah Indonesia.
Menurut Wibisono, kala itu negara Indonesia sedang
lemah. Indonesia barat, tengah dan timur sedang carut marut. Padahal
kondisi Belanda saat itu sedang terdesak. Untuk menjaga beberapa
kekuatan teritorial dibeberapa titik vital di Indonesia.
Perjanjian Linggarjati, menurut Wibisono membuat
daerah Indonesia hanya tersisa Jawa, Madura dan Sumatera. Sedangkan
Perjanjian Renville telah membuat teritorial Indonesia di pulau Jawa
hanya sebatas Jogyakarta. Untuk
menjaga sisa teritorial Indonesia, maka pemerintah Indonesia berpikir
untuk mengirim Lukas Kustario untuk menjaga daerah utara. Sedangkan
daerah selatan justru dimandatkan ke Kartosoewirjo oleh pemerintah.
Karenanya, cukup aneh bagi Wibisono, tiba-tiba Kartosoewirjo yang banyak jasa distigmakan seorang yang kurang baik oleh sejarah.
“Hati-hati dalam menjelaskan sejarah, seperti Kahar
Muzakar, Daud Beureuh hingga Kartosoewirjo semua itu aslinya pejuang
(kemerdekaan) semua,” jelas Wibisono di depan forum seminar secara
gamblang terbuka.
Bagi Yayan dan Wibisono, pencitraan buruk yang dibangun terhadap Kartosoewirjo adalah fitnah sejarah yang harus diluruskan.
Sarjono Kartosoewirjo, anak terbungsu Kartosoewirjo
juga menguatkan pendapat-pendapat tersebut. Menurutnya, seharusnya
orang-orang TNI jangan menyebarkan sejarah sepihak. Sejarah juga harus
mengizinkan pihak keluarga Kartosoewirjo dan keturunan DI/TII untuk
menjelaskan sudut pandang mereka. Terlebih mereka adalah bagian dari
pelaku sejarah tersebut. Mereka tidak menulis dalam kepalsuan apalagi
dari sebuah tulisan contekan,ujarnya.*
SUMBER : http://www.hidayatullah.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar