Selasa, 13 November 2012

Api sejarah

Jika dalm sejarah, stiap gerakn perlawanan trhadap imperialisme, disebut sbgai gerakan nasionalisme.
Semntara dlm sejarah, Ulama dan Santri di Indonesia sbgai pelopor perlawanan trhadap imperialisme yg sharusnya dituliskn dlam sejarah Indonesia sbgai pmbangkit kesadaran nasional di Indonesia, trnyata tdk ditulis. Padhal Ulama dan Santri mnurut zamannya adlah kelompok cendikiawan muslim. Klmpok inilah dlam catatan sjarah sbgai pemimpn trdepan ide pengubah sejarah di Nusantara.
Perlu diingat, istilah ‘nasional’ dimasyarakatkn oleh Centraal Sjarikat Islam 17-24 Juni 1916. Namun, didlm Sejarah Indonesia akibat diartikan nasionalisme bukn dari gerakan organisasi Islam maka istilah nasional sprti disosialisasikan oleh Perserikatan Nasional Indonesia – PNI – di Bandung, 4 Juli 1927. Padahal, istilah ‘Indonesia’ dipelopori oleh Dr. Soekiman Wirjosandjojo dgn mngubah ‘Indische Veriniging’ menjadi ‘Perhimpunan Indonesia’, 1925 M di Belanda dan ‘Majalah Hindia Poetra’ diganti mnjadi ‘Indonesia Merdeka.’ Akibat Dr. Soekiman Wirjosandjojo aktif dlm pimpinan Partai Sjarikat Islam Indonesia, Partai Islam Indonesia, dan Partai Masjoemi tdk dituliskan sbgai pelopor pgguna prtama istilah ‘Indonesia’ dan ‘Indonesia Merdeka’ dlm masa Kebangkitan Kesadaran Nasional Indonesia.
Bung Karno mendirikan PNI, 1927, sebelas tahun sesudah National Congres Centraal Sjarikat Islam Pertama -1e Natico, 1916 M, yg dipimpin oleh Oemar Said Tjokroaminoto, Abdoel Moeis, Wignjadisastra di Bandung. Oemar Said Tjokroaminoto tdk hanya sebgai Guru Politik, tetapi jg sbgai mertua Bung Karno.
Demikian pula, National Congres Centraal Sjarikat Islam juga mmpelopori menuntut Indonesia merdeka, atau Pemerintah Sendiri – Zelf bestuur, 1916 M. Namun dlam Sejarah Indonesia dituliskan pelopornya adalah Bung Karno di depan Pengadilan Kolonial di Bandung pada 1929, atau Petisi Soetardjo yg menuntut Indonesia merdeka. Anehnya, taggl jadi Boedi Oetomo, 20 Mei 1908, diperingati sbgai Hari Kebangkitan Nasional. Padahal, sampai dgn Kongres Boedi Oetomo di Solo, 1928 M, mnurut Mr. A.K. Pringgodigjo dlm Sedjarah Pergerakan Rakjat Indonesia, Boedi Oetomo tetap menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia. Walaupun sampai dengan Kongres trsebut, Boedi Oetomo sudah berusia 20 tahun, tetap mempertahankan Djawanisme. Selanjutnya, Dr. Soetomo membubarkan sendiri Boedi Oetomo, 1931 M karena tdk sejalan dgn tuntutan zamannya. Ajaran Kejawen atau Djawanisme sbagai landasan wawasan Boedi Oetomo sangat bertentangan dgn ajaran Islam yg dianut mayoritas pribumi. Melalui medianya Djawi Hisworo, Boedi Oetomo berani menghina Rasulullah Saw.


Sumber :  http://serbasejarah.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar